Jelang 17 Agustus, Film The East Kembali Diperbincangkan

0
51

SAMIN-NEWS.com – Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, film asal Belanda The East atau De Oost mendadak kembali perbincangan di berbagai lini masa media sosial.

Hal ini tentu tidak begitu mengherankan, sebab film karya sutradara Jim Taihuttu yang juga merupakan anggota dari duo DJ Yellow Claw tersebut mengangkat isu yang sangat tidak biasa.

De Oost (The East) adalah film fiksi Belanda pertama yang menggambarkan sosok Raymond Westerling. Film itu dipuji sebagai “simbol keberanian anak muda Belanda” yang jujur melihat sejarahnya sendiri.

Di sisi lain, sejumlah pihak, termasuk putri Westerling, mengkritik film itu yang disebutnya “memutarbalikkan fakta” dan “menyebarkan kebohongan”.

Westerling adalah pemimpin Depot Speciale Troepen (DST), satuan khusus militer Belanda yang terlibat aksi pembantaian di Sulawesi Selatan pada 1946 hingga 1947.

Sejumlah sejarawan mengungkapkan bahwa ada sekitar 40.000 korban pembantaian Westerling di Sulawesi Selatan. Sementara di Belanda, jumlah korban yang dilaporkan adalah sekitar 3.000 orang.

Di berbagai lini masa media sosial, netizen menyampaikan pandangannya agar film tersebut bisa menjadi medium yang menceritakan peristiwa pembantaian di masa lalu yang selama ini tidak pernah disampaikan secara terang.