Mitigasi Bencana Berorientasi Discovery Learning dalam Pembelajaran IPS

0
52
Ilustrasi

SAMIN-NEWS.com, Era globalisasi seperti sekarang ini, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat, diiringi pula berkembangnya berbagai konsep dan wawasan baru tentang sistem pembelajaran di sekolah. Salah satu teori belajar yang digunakan dalam dunia pendidikan adalah teori belajar kognitif. Yang melatarbelakangi muncunya terori belajar kognitif yaitu adanya kritik terhadap teori behaviorisme yang dianggap terlalu sederhana, proses belajar hanya sebagai hubungan stimulus-respon.

Penganut aliran teori kognitivisme, mempunyai pandangan erbeda tentang proses belajar. Proses belajar melibatkan proses berfikir yang sangat kompleks melibatkan prinsip dasar psikologi, yaitu belajar aktif melalui pengalaman pribadi dan interaksi sosial. Dengan demikian, dalam belajar kognitif, proses belajar lebih penting daripada hasil belajar, dan kegiatan belajar tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.

Salah satu tokoh teori kognitivisme adalah Bruner, dalam teorinya belajar adalah suatu proses aktif yang memungkinkan manusia menemukan sesuatu yang baru di luar informasi yang sudah diberikan kepadanya. Pengetahuan perlu dipelajarai dengan tahap perkembangan kognitif supaya pengetahuan yang diperoleh dapat diinternalisasikan ke dalam pikiran atau struktur kognitif manusia yang mempelajarinya.

Teori yang dikembangkan Bruner dan para ahli lainnya, tentunya berpengaruh pada kurikulum yang diterapkan pada suatu negara. Dengan demikian, kurikulum seharusnya memuat struktur pengetahuan yang berisi ide, gagasan, konsep dasar, dan hubungan antara konsep yang dianggap penting, dan pembelajaran pada suatu kurikulum akan berhasil jika diterapkan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan perkembangan kognitif.

Bruner yang memiliki nama lengkap Jerome Seymour Bruner seorang ahli psikolog yang memiliki kontribusi besar dalam teori belajar kognitif yang merupakan peralihan dari teori behaviorisme. Bruner lahir di New York Amerika pada tanggal 1 Oktober 1915. Tahun 1939 mendapat gelar MA dan pada tahun 1941 mendapat gelar Ph.D di Havard University. A Study in Thinking merupakan karya Bruner dalam mengawali kognitivisme. Bruner sebagai salah satu tokoh utama dalam revolusi kognitivisme dan eksistensinya bidang pendidikan berpengaruh besar pada proses pembelajaran.

Pandangan Bruner tentang belajar sebagai proses perkembangan kognitif didasarkan pada dua asumsi, yaitu: perolehan pengetahuan adalah proses interaktif seseorang dengan lingkungannya secara aktif akan terjadi peubahan pada diri seseorang dan lingkungannya, dan seseorang mengkonstruksikan pengetahuan yang dimiliki dengan menghubungkan informasi baru dan informasi yang diperoleh sebelumnya menjadi suatu struktur pengetahuan yang bermakna.

Pada prinsipnya, teori kognitif bruner lebih menekankan bagaimana individu mengeksplorasi potensi yang ada pada dirinya. Dari situlah terlahir teori belajar penemuan atau discovery learning, dimana peserta didik secara aktif mencari pemecahan masalah melalui tiga tahapan perkembangan kognitif yang terintegrasi, kemudian menghasilkan pengetahuan baru yang benar-benar bermakna.

Bruner menjelaskan peran guru dalam belajar penemuan diantaranya: (1) guru sebagai fasilitator dan tidak begitu mengendalikan proses pembelajaran; (2) guru harus pandai menstimulasi atau memunculkan masalah, peserta didik memecahkan sendiri solusinya; (3) guru membimbing dan memotivasi peserta didik untuk menemukan konsep, menemukan hubungan antar bagian struktur materi dan membuat kesimpulan. Model pembelajaran yang dimaksud dalam teori Bruner yaitu discovery learning yang mempunyai prinsip yang sama dengan inquiry.

Dalam Wijoyoko, G. D., & Astuti, A. (2022) pendidik melalui proses mengajar di sekolah dituntut untuk memberikan pengalaman nyata yang dapat digunakan sebagai dasar pengembangan diri peserta didik untuk bekal sebagai makhluk sosial yang sadar akan tugas dan tanggung jawabnya dalam dunia pendidikan. Tantangan ini memerlukan peningkatan keterampilan guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan ilmiah.

Mulianingsih, F., Zainal, Z., Mayora, F., & Oranda, R. (2022, March) menyatakan bahwa seiring dengan perkembangan informasi, teknologi dan komunikasi semua sektor dituntut mengalami perubahan, termasuk juga pendidikan. Keberhasilan proses pembelajaran dapat diketahui melalui evaluasi pembelajaran. Dalam mengaplikasikan model pembelajaran Discovery Learning, guru berperan sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar secara aktif, sebagimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar peserta didik sesuai dengan tujuan. Kondisi seperti ini ingin merubah kegiatan belajar mengajar teacher oriented menjadi student oriented.

Azmi, F. S. U., Purnomo, A., & Mulianingsih, F. (2019) menyatakan bahwa kreativitas guru sangat penting sebagai penunjang dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar siswa. Upaya yang dilakukan guru dengan memunculkan berbagai ide-ide baru, cara-cara baru yang dapat menjadikan siswa aktif, serta dapat meminimalisir penyebab kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran IPS.

Pada hakekatnya semua jenis bencana, baik yang disebabkan oleh alam, ulah manusia, dan/atau keduanya, seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan/bencana asap, wabah penyakit, dan bencana akibat kecelakaan industri serta kegagalan teknologi, selalu mengancam kehidupan bangsa Indonesia. Menurut Yetizon, Y., & Tusa’diah, R. (2020) mitigasi bencana dapat digunakan sebagai sumber pembelajaran berbasis model discovery learning.

Purnomo, A., Mulianingsih, F., Fahry, A., & Setyarini, I. M. (2022, February) menyatakan bahwa beragam bencana alam akhir-akhir ini kerap menjadi pemberitaan utama di berbagai media Indonesia, baik cetak, elektronik maupun sosial. Sepanjang tahun 2018-2021 lebih dari lima bencana alam besar menimpa Indonesia. Sejumlah gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, hingga fenomena liuifaksi menelan banyak korban. Indonesia yang terletak di kawasan cincin api Pasifik memiliki potensi bencana alam yang tinggi. Melalui pembelajaran IPS, fenomena mitigasi bencana dapat dijadikan sebagai salah satu sumber belajar yang kreatif dan efektif bagi para peserta didik (Mulianingsih, F, 2017). Suharini, E., & Kurniawan, E. (2021) mengatakan bahwa tindakan penanggulangan bencana harus dibangun melalui pengembangan metakognitif dan tindakan keterampilan.Strategi metakognitif mencakup aspek pengetahuan tentang kapan dan bagaimana menggunakannya berdasarkan jenis, teknik khusus, dan respon yang diasumsikan terkait dengan penanganan bencana.

Ditinjau dari pembelajaran IPS, alam dan manusia senantiasa mengalami dinamika, dinamika tersebut diperlukan untuk menemukan keseimbangan. Dalam tujuan pendidikan tersebut, tercerminkan adanya kualitas sumber daya manusia yang terintegrasi antara kualitas akhlak, sikap, pengetahuan, an perilaku yang kreatif dan antisipatif. Bencana telah menjadi isu pembangunan, karena hasil pembangunan yang telah dirintis puluhan bahkan ratusan tahun dapat musnah atau rusak seketika dengan adanya bencana, perekonomian masyarakat dan negara pun banyak mengalami keumduran, banyak prasarana dan sarana ekonomi, sosial dan budaya yang rusak. Masyarakat yang terkena bencana, seringkali harus menata ulang kehidupannya dari awal, mereka harus pindah ke tempat lain, dan mulai penghidupan di tempat baru. Dari hal tersebut, pendidikan merupakan proses multidimensional, tidak hanya berhubungan dengan pentransferan pengetahuan dan keterampilan, tapi juga memaparkan, menanamkan dan memberikan keteladanan dalam hal sikap, nilai, moralitas, ucapan, perbuatan, dan gaya hidup.

Disusun Oleh :

Ferani & Andarweni

Ferani Mulianingsih, S.Pd., M.Pd. Universitas Negeri Semarang
Ferani Mulianingsih, S.Pd., M.Pd.
Universitas Negeri Semarang
Ferani Mulianingsih, S.Pd., M.Pd. Universitas Negeri Semarang Andarweni Astuti SE,MM STPKAT Santo Fransiskus Asisi Semarang
Andarweni Astuti SE,MM
STPKAT Santo Fransiskus Asisi Semarang