Lamikro Membangun UMKM di Era Revolusi Industri 4.0 Bentuk Aplikasi dalam Pembelajaran IPS

0
42
Ilustrasi
Ilustrasi

SAMIN-NEWS.com, Evolusi cepat dari hadirnya teknologi dan komunikasi membawa perubahan drastis bagi masyarakat dan industri. Transformasi digital akan menciptakan nilai-nilai baru, yang kemudian melahirkan nilai-nilai baru dan menjadi pilar kebijakan industri di berbagai negara. Untuk mengantisipasi tren global tersebut, masyarakat 5.0 atau sering kita dengar dengan istilah society 5.0 disajikan sebagai konsep inti dalam rencana dasar sains dan teknologi ke-5, yang diadopsi oleh Kabinet Jepang pada Januari 2016.

Saat ini, kita menghadapi revolusi industri ke empat yang dikenal dengan Revolusi Industri 4.0. Ini merupakan era inovasi disruptif, di mana inovasi ini berkembang sangat pesat, sehingga mampu membantu terciptanya pasar baru. Inovasi ini juga mampu mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada dan lebih dahsyat lagi mampu menggantikan teknologi yang sudah ada. Dalam konteks Pendidikan, juga bisa disebut “Era Pendidikan 4.0”, dimana era ini merupakan tantangan yang sangat berat dihadapi pendidik.

Industri yang dimiliki Indonesia sangat beragam, salah satunya adalah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Kelompok pelaku UMKM memberikan kontribusi yang besar dalam perekonomian Indonesia terbukti menjadi katup pengaman perekonomian nasional dalam masa krisis, serta menjadi dinamisator pertumbuhan ekonomi pasca krisis Indonesia.

Penataan keuangan menjadi salah satu masalah yang sering kali terabaikan oleh para pelaku bisnis usaha mikro. Konsep kesatuan ekonomi (economic entity concept) merupakan konsep yang sangat ideal untuk UMKM. Kementerian Kopersi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) meluncurkan aplikasi Laporan Akuntansi Usaha Mikro (Lamikro) yang bisa digunakan melalui smartphone dengan sistem operasi android.

Peningkatan Sumber Daya Manusia dalam persaingan di kancah internasional di saat ini ada dua prioritas yakni; pertama, proses penggunaan, pembelajaran dan pencetakan karakter mahasiswa di dalam perguruan tinggi. Kedua, pendidikan Indonesia harus mulai merdeka dalam belajar dan menjadikan guru sebagai penggerak. Dari kedua pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam menjalankan proses Pendidikan tidak hanya berfokus kepada kecerdasan buatan (artificial intelligence) melalui konektivitas di segala hal, tetapi juga berfokus kepada komponen manusia sebagai motor penggerak pendidikan. Hal tersebut tanpa kita sadari, Pendidikan kita saat ini sudah masuk kedalam era society 5.0, dimana era ini menawarkan masyarakat yang berpusat pada keseimbangan. Dimana Internet bukan hanya sebagai informasi melainkan untuk menjalani kehidupan, sebuah era di mana semua teknologi adalah bagian dari manusia itu sendiri dan perkembangan teknologi dapat meminimalisir adanya kesenjangan pada manusia dan masalah ekonomi pada kemudian hari.

Pelaksanaan pembelajaran yang masih tekstual sedikit banyak menghambat tercapainya tujuan pembelajaran yang komprehensif, untuk itu pembelajaran idealnya harus mengarah pada pembelajaran kontekstual guna membangun karakter peserta didik terlebih karakter entrepreneur yang dipadupadankan dengan sikap peduli lingkungan yang dapat menghasilkan suatu produktifitas yang teraktualisasi dalam perilaku manusia yang melek lingkungan. Dalam tulisan artikel ini, pemanfaatan lamikro dalam UMKM bertujuan untuk sumber belajar pada pembelajaran IPS dengan memanfaatkan sumber daya lokal melalui Discovery Learning.

Peserta didik dituntut untuk mencapai tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran IPS. Tujuan pembelajaran IPS berorientasi pada tingkah laku peserta didik, yaitu pengetahuan dan pemahaman, sikap hidup belajar, nilai-nilai sosial dan sikap dan keterampilan. Untuk dapat mencapai tujuan dari pembelajaran IPS dan meningkatkan hasil belajar IPS, maka guru dalam proses pembelajaran perlu menerapkan model pembelajaran discovery learning. Melalui model discovery learning, peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan kondisi fisik dan mentalnya serta memperoleh hasil belajar yang baik. Model discovery learning dalam pembelajaran IPS sangat urgen untuk diterapkan, karena dapat memberi pengaruh langsung terhadap hasil belajar IPS.

Di tengah kebutuhan dan tantangan hidup yang kian kompleks, para guru harus melatih peserta didik untuk berpikir kritis, kreatif, dan inovatif dengan memperkenalkan materi-materi IPS yang aktual dan dengan model-model pembelajaran yang bermakna. Dalam kehidupan sehari-hari disadari atau tidak, manusia selalu dalam kondisi belajar. Hal ini disebabkan oleh sifat manusia yang selalu ingin tahu dan berkeinginan untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya. Belajar merupakan proses dasar dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu seperti tingkah laku yang berkembang. Semua aktivitas dan prestasi hidup manusia adalah hasil dari belajar. Karena itu, belajar berlangsung secara aktif dan integratif dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai suatu tujuan.

Pada proses penemuan terbimbing/discovery learning ini guru bertindak sebagai penunjuk jalan bagaimana pemanfaatan lamikro dalam UMKM sebagai sumber belajar IPS. Guru membantu peserta didik agar menggunakan ide, konsep, dan keterampilan yang sudah mereka pelajari sebelumnya untuk mendapatkan pengetahuan yang baru tentang pengaplikasian pembelajaran IPS melalui lamikro guna membagun UMKM di era revolusi 4.0. Pengajuan pertanyaan yang tepat oleh guru akan merangsang kreativitas peserta didik dan membantu mereka dalam menemukan pengetahuan yang baru tersebut. Metode ini memerlukan waktu yang relatif banyak dalam pelaksanaannya, akan tetapi hasil belajar yang dicapai tentunya sebanding dengan waktu yang digunakan. Peran peserta didik dalam model pembelajaran dengan penemuan terbimbing/ discovery learning ini cukup besar, karena pembelajaran tidak lagi terpusat pada guru tetapi pada peserta didik. Guru memulai kegiatan belajar mengajar dengan menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan peserta didik dan mengorganisir kelas untuk kegiatan seperti pemecahan masalah, investigasi atau aktivitas lainnya.

Disusun oleh :

Ferani Mulianingsih, S.Pd., M.Pd. Universitas Negeri Semarang
Ferani Mulianingsih, S.Pd., M.Pd.
Universitas Negeri Semarang
Tri Astuti, S.Pd., M.Pd.
Tri Astuti, S.Pd., M.Pd.