Menguak Juwana Sebagai Kabupaten

0
85
Gerbang gapura masuk ke kompleks Makam Astana Jatisari, di Desa Growong Kidul, Kecamatan Juwana yang kini masih dalam proses pembangunan. Di lokasi ini, menjadi tempat dimakamkannya para Bupati Juwana.

WAJAR jika sekarang sudah muncul sebuah pernyataan dalam ranah melihat Juwana ke depan, utamanya adalah latar belakang sejarah para leluhur yang ternyata menurunkan trah juga sebagai Bupati. Bahkan, dari cucu-buyut pun sudah ada yang menyatakan bahwa Bupati Pati ke depan (2024-2029) tetap belum mau beranjak dari Pati timur.

Terlepas dari hal itu, maka perlu kiranya jika ada yang mencoba memahami, siapa sebenarnya Juwana punya sejumlah Bupati yang juga menjadi leluhurnya. Lalu Bupati tersebut ada pada masa apa, maka untuk menyimaknya tentu membutuhkan pemahaman yang harus diawali hadirnya sosok seorang Bupati Juwana pertama.

Berdasarkan catatan pada silsilah para Bupati Juwana sebagaimana dituliskan oleh pengurs Yayasan Suro Wikromo Juwana, yaitu adanya Bupati tersebut berlangsung pada masa pemerintahan Kerajaan Mataram Islam yang dipimpin Sultan Agung Hanyokro Kusumo (1613 – 1646 M). Akan tetapi, untuk lingkupnya kita batasi pada Bupati Juwana yang pertama saja, sehingga pada kesempatan lain bisa disambung lagi pada Bupati berikutnya.

Adapun Bupati Juwana pertama, adalah Tumenggung Bahurekso yang nama masa mudanya adalah Joko Bahu yang pada awalnya adalah sebagai abdi dalem di Keraton Mataram. Sedangkan Joko Bahu sendiri adalah putra Ki Ageng Ngerang IV ( Ki Ageng Cempalok), dan sebelum menjadi Bupati Juwana dinobatkan sebagi Bupati Kendal oleh Sultan Agung.

Dengan demikian, untuk menguak sosok tokoh ini tentu ada dua versi, yaitu versi sejarah asal-usul Kabupaten Kendal. Sedangkan di satu sisi, adalah Tumenggung Bahu Rekso sebagai Bupati Juwana juga dinobatkan oleh Sultan Agung Hanyokro Kusumo, Tahun 1628-1882 M, sehingga terjadi perbedaan angka tahun.

Sebab, pada tahun tersebut (1628) Tumenggung Bahu Rekso yang juga sebagai panglima perang Mataram harus membawa ribuan pasukannya untuk menyerang VOC di Batavia. Tapi dalam penyerbuan itu mengalami kekalahan, dan bahkan Tumenggung Bau Rekso pun terbunuh, dan ada juga versi yang menyebutkan atas kekalahannya itu sengaja dibunuh.

Karena itu, kita bisa menarik simpulan catatan pendek Tumenggung Bahu Rekso, bahwa diangkatnya yang bersangkutan sebagai Bupati Juwana, barang kali benar berlangsung pada Tahun 1628. Hal tersebut atas jasanya dalam pertemburan antara Pragola 2 yang dianggap sebagai pemberontak, dan penyerbuan Mataram ke Pati itu berlangsung sekitar Tahun 1627.

Saat itu Tumenggung Bahu Rekso membawa pasukannya untuk menyerang Pati dari sisi timur, sehingga setelah itu atas kemenangannya diberi kedudukan untuk menjadi Bupati Juwana oleh Sultan Agung, selain sebelumnya sudah menjabat Bupati Kendal. Akan tetapi di Tahun 1628, mendapat perintah dari Sultan Agung yang harus menyerbu VOC di Batavia, dan mengalami kekalahan total.

Berdasarkan kondisi itu, maka jika Tumenggung Bahu Rekso meningga pada Tahun 1628, tapi kedudukannya tetap sebagai Bupati Juwana. Sampai ada penggantinya di Tahun 1882, yaitu Tumenggung Mertoleksono (1682-1706), dan berlanjut dengan para Bupati berikutnya sampai trahnya yang akan memimpin pemerintahan Kabupaten Pati ke depan. Siapa? Konon, dari kawasan Pati timur, utamanya dari timur alur Kali Juwana.