Trend Respon Pondok Pesantren Meningkat

0
26
Maulana Lutfi Karim, salah satu Pengurus dan kyai Ponpes Busyrol Karim Desa/Kecamatan Gembong.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Dewasa ini trend Islam perkotaan muncul di permukaan publik. Hal ini dengan memperhatikan karakteristik ataupun corak pemeluk agama Islam. Yakni secara fundamental dengan simbol maupun atribut dari Islam Kampung dan Islam Kota.

Maulana Lutfi Karim, salah satu Pengurus dan kyai Ponpes Busyrol Karim Desa/Kecamatan Gembong, menilai tanpa bermaksud menggeneralisir fenomena sosial ini. Akan tetapi, jika melihat perkembangan yang terjadi bisa di tempatkan berdasarkan atribut, corak beserta model ritus yang dijalankan.

“Trend masuk pondok pesantren kini cukup meningkat bagi mereka Islam Kota. Tidak ada penurunan, justru sebaliknya,” kata Lutfi kepada Saminnews, Rabu (3/3/2021).

Menurutnya, Islam Kota adalah sebuah penganut agama Islam yang cenderung berpikir ke-modern-an. Artinya, segala sesuatu baik itu fashion, maupun tindakan merepresentasikan Islam syar’i. Dengan mendasarkan semuanya pada Nabi Muhammad beserta Qur’an dan Hadis.

Tentu saja, kembali lagi melihat perubahan sosial pada kelompok Islam kota terhadap yang tinggal di kampung. Sebab, dimana-mana selalu ada pengecualian, tidak selamanya sama dan seragam, selalu ada warna-warni.

“Tetap saja respon kepada pondok pesantren itu stabil. Kalau dari dulu sudah wajar Islam Kampung tertarik pada Ponpes, tetapi Islam Kota cenderung masih hal baru,” tambah dia.

Lebih lanjut, kata Lutfi Islam Kampung adalah kebalikan dari Islam Kota. Yakni kecenderungan memupuk hubungan sosial, toleransi yang tinggi serta hampir tidak mempermasalahkan urusan teologi atas kehidupan pribadi maupun kelompok.

Menurutnya ini tentu saja sangat kontras dengan sebagian kelompok Islam kota, apalagi yang model Salafi, yang cenderung saklek dalam berislam harus sesuai dengan qur’an dan hadis.

Meski demikian, karakteristik antara Islam Kota dan Kampung ini adalah suatu karakteristik penganutnya. Namun, pilihan keyakinan seseorang terbentuk dari faktor lingkungan berada.

Keduanya tampak beda dari prioritas masing-masing, yang satu cenderung lebih mementingkan ibadah sosial tanpa melihat identitas, apa adanya. Dan kedua cenderung lebih tegang atau kaku. Mungkin diantara keduanya bisa dimafhum lantaran pemahaman serta tafsir ritus keagamaan.