Nanti Malam Puncak Haul Al-Maghfurlah KH Syamsul Hadi (2)

0
212
Satu-satunya masjid tertua di Jaken, yaitu Masjid Al-Mujahidin peninggalan Al-Muaghfurlah KH Syamsul Hadi yang sudah beberapa kali mengalami renovasi.

Pengantar:  Sosok Kiai ”ndesa” yang satu ini, adalah Al-Mughfurlah KH Syamsul Hadi, asal Dukuh Kolutan, Desa Sumberejo, Kecamatan Jaken. Sebab, yang bersangkutan adalah seorang pejuang dan sekaligus guru sufi pada masanya yang sudah pasti tidak akan ditemukan dalam buku sejarah, maka ”Samin News” menuliskan sosok kiai ini dalam beberapa beberapa seri.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Bersamaan peringatan Isra Miraj, Kamis (11/3) hari ini atau bertepatan dengan 27 Rajab, nanti malam adalah puncak peringatan haul Al-Maghfurlah KH Syamsul Hadi Kolutan Sumberejo, Kecamatan Jaken. Selain berlangsung tahlil umum untuk bapak-bapak juga direncanakan istighosah.

Sedangkan tentang sosok kiai kharismatik, Al-Maghfurlah KH Syamsul Hadi, sebagaimana dituturkan Zamahsari, Ketua Umum Yayasan Keluarga Syamsul Hadi juga mempunyai Mbah buyut Hamzah, asli dari Desa Deresan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang. Sedangkan Mbah Hamzah berputra tiga orang, yaitu Sarman, Aminah dan Tamilah.

Semasa kecil Syamsul Hadi tumbuh dan berkembang sebagaimana kebanyakan anak yang lain, tapi menjelang usia baligh mulai terlihat hal-hal yang tidak dimiliki oleh kebanyakan anak-anak sebayanya. Yakni, mulai dikenal sebagai anak yang setia, taat, serta rajin membantu bekerja kedua orang tua juga tekun beribadah, jujur dan dikenal sebagai anak yang memiliki otak cerdas, terampil dalam menghadapi setiap persoalan, sehingga disegani di antara teman-teman lain.

Menyangkut pendidikan KH Syamsul Hadi, lanjut Zamahsari, awal menuntut ilmu yang dimulai dari mengaji turutan (Al-Quran juz 30) di Tahun 1881 masehi. Menginjak juz pertama Al-Quran dan seterusnya Tahun 1882 masehi, kemudian melanjutkan menuntut ilmu kepada Kiai Jamaluddin di Dukuh Dahan, Desa Tamansari bersama pamannya, Kunawi.

Hal tersebut berlangsung hingga Tahun 1887, karena saat itu harus dikhitan dengan penghormatan arak-arakan dari pondok Dahan sampai Desa Weduni. Arak-arak tersebut tak lain berupa barisan terbang, dan pencak silat.

Selesai dikhitan, untuk sementara melanjutkan  mengaji dengan Embahnya Kiai Tuan Al-Husain Weduni hingga saat musim tanam padi usai. Berikutnya melanjutkan menuntut ilmu mengikuti pamannya Kunawi ke Bandung Wirosari, meskipun sebenarnya Mbah Sarman agak berat melepasnya,

Sebab, saat itu baru terjadi masa paceklik sehingga tidak banyak bekal yang bisa diberikan. ”Akhirnya beliau berdua berangkat atas restu orang tua dengan membawa uang saku Rp 1,50, dan hal itu terjadi pada bulan Maulud (Rabiul Awal) Tahun 1887 Masehi,” ujarnya. (bersambung)