Beberapa Catatan; Rekayasa Lalulintas Saat Jembatan Juwana I Dibangun (1)

0
98
Kondisi Jembatan Juwana I yang menghubungkan lalu lintas di jalur pantura Semarang-Surabaya.(Foto:SN/aed)
Kondisi Jembatan Juwana I yang menghubungkan lalu lintas di jalur pantura Semarang-Surabaya.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, BELAJAR dari pengalaman macetnya jalur pantura Juwana – Batangan saat berlangsung pelaksanaan pekerjaan pembangunan ruas jalan nasional tersebut, seharusnya tidak harus berulang. Akan tetapi syaratnya, saat pihak berkompeten memberlakukan rekayasa lalulintas, maka para pengguna jalan harus benar-benar mematuhinya.

Padahal kita tahu, bagaimana rendahnya tingkat disiplin para pengguna jalan kita, sehingga saling serobot dan saling ingin mendahului tak bisa dihindari. Padahal, dampak dari perilaku pengguna jalan seperti itu justru akan memperparah timbulnya kemacetan yang kian mengeluar dan bertambah panjang hingga berjam-jam.

Jika hal tersebut sampai terjadi, maka kendaraan yang sudah terjebak di tengah-tengahnya tentu tak bisa berkutik, karena sudah tidak mungkin untuk melalukan putar balik mencari jalur alternatif. Untuk arus lalulintas dari barat (Semarang), misalnya, akan mengalami kemacetan sepanjang lebih dari lima kilometer, baru ada satunya jalur alternatif lewat Guyangan-Glonggong-Jakenan-Jaken-Batangan dan ke pantura Batangan-Rembang.

Akan tetapi satu hal yang harus diingat, utamanya oleh sopir truk-truk besar bermuatan berat, sudah tidak mungkin mengarahkan kendaraannya untuk masuk ke jalan alternatif tersebut, mengingat ruas jalan itu bukan kelasnya untuk dilewati kendaraan berat. Lagi pula, jika pembangunan jembatan tersebut dimulai usai Lebaran atau di bulan Mei, maka di ruas jalan yang menjadi jalur alternatif itu juga tengah berlangsung paket pekerjaan peningkatan ruas jalan.

Jembatan Juwana II sepanjang 100 meter mulai dari Desa Doropayung hingga Bumirejo, Kecamatan Juwana, satu-satunya yang akan menjadi pengalihan arus lalu lintas dari barat (Semarang) ke timur maupun sebaliknya.(Foto:SN/aed)
Jembatan Juwana II sepanjang 100 meter mulai dari Desa Doropayung hingga Bumirejo, Kecamatan Juwana, satu-satunya yang akan menjadi pengalihan arus lalu lintas dari barat (Semarang) ke timur maupun sebaliknya.(Foto:SN/aed)

Di antaranya, yaitu di ruas jalan Jaken-Jakenan yang kini sudah memasuki tahapan lelang pekerjaan, sehingga jika nanti ada yang mencari alternatif lewat jalan ini justru akan terjebak dalam kemacetan yang panjang. Sedangkan kemacetan lain di ruas jalan kabupaten juga tak bisa dihindari jika sampai ada pengguna jalan dari timur, tapi sampai di pertigaan Ngebruk, di Desa Bumirejo justru belok ke kiri menuju Jakenan.

Dari perempatan Sleko Jakenan ke barat lewat Glonggong ke Guyangan, Desa Purworejo, Kecamatan Pati, dampaknya pasti akan menimbulkan permasalahan di pertigaan Guyangan ini. Itulah kemungkinan-kemungkinan terburuk yang namanya kamacetan saat dimulainya pembangunan Jembatan Juwana I sepanjang 100 meter yang membentang di atas alur Kali Juwana yang dikenal dengan sebutan lain Bengawan Silugonggo.

Sebab, satu-satunya arus lalu lintas dari arah barat dan timur ini hanya bisa dialihkan untuk melintas di Jembatan Juwana II, atau tepatnya mulai pertigaan sebalah timur Jembatan Congyok. Selama ini, arus lalu lintas dari timur masuk ke ruas jalan lurus dari timur, dan sampai pertigaan tersebut akan bertemu dengan arus lalu lintas dari barat yang selama ini lewat Jembatan Juwana I, dan lurus ke timur yang sudah barang tentu harus dialihkan jalurnya.

Pengalihan kendaraan dari barat, itu pun merupakan satu-satunya pilihan yang semula kendaraan dari ruas jalan empat lajur ke ruas jalan dua lajur. Tepatnya, mulai dari perempatan Alun-alun Juwana, untuk kendaraan yang dari barat tentu tidak bisa lagi langsung ke timur, karena jembatannya dibongkar, sehingga harus belok kanan (selatan) masuk ke Jl P Sudirman, dan langsung akan bertemu atau berpapasan arus lalulintas dari timur ke barat (bersambung).