Al-Maghfurlah KH Syamsul Hadi Pernah Jadi Juru Laden (3)

0
150
Mihrab/mimbar di Masjid Al-Mujahidin peninggalan Mbah KH Syamsul Hadi.

Pengantar:  Sosok Kiai ”ndesa” yang satu ini, adalah Al-Mughfurlah KH Syamsul Hadi, asal Dukuh Kolutan, Desa Sumberejo, Kecamatan Jaken. Sebab, yang bersangkutan adalah seorang pejuang dan sekaligus guru sufi pada masanya yang sudah pasti tidak akan ditemukan dalam buku sejarah, maka ”Samin News” menuliskan sosok kiai ini dalam beberapa beberapa seri.

SAMIN-NEWS.com – Sesampainya Syamsul Hadi di pondok oleh pamannya Kunawi dijadikan juru laden (pelayan), tapi selama lima bulan selalu mendapat caci-maki dari pamannya karena pekerjaannya dianggap tidak memuaskan. Sehingga tidak mau lagi menjadi juru laden, dan hal itu menyebabkan pamannya sangat marah yang berakhir dengan pembakaran habis semua kitab miliknya, dan sudah barang tentu membuatnya sangat sedih.

Kejadian tersebut diketahui oleh pengasuh pondok Kiai Asmu’in, maka Mbah Syamsul Hadi dipanggil menghadap, untuk menyampaikan kejadian yang dialaminya. Kemudian diminta menjadi juru laden ibu Nyai (istri Kiai Asmu’in), tapi setelah empat bulan mohon pamit pulang untuk menjenguk orang tua di rumah.

Hal itu berlangsung bersamaan dengan Hari Raya Kupatan (satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri), dengan membawa uang lebih banyak dari pada uang saku dari rumah yang hanya Rp 5. Uang tersebut diperoleh dari hasil menulis kitab-kitab di pondok, di luar waktu tugas melayani kepentingan Ibu Nyai.

Sekembalinya di pondok, setelah beberapa hari menengok keluarga di rumah Mbah Syamsul Hadi diberi nasihat Kiai Asmu’in, hendaknya lebih mandiri di pondok. Selain itu juga agar  lebih sabar, tawakal dan rajin mengaji sehingga bisa menjadi panutan para santri lainnya.

Setelah limabelas tahun menuntut ilmu di Bandung Wirosari, sampai Tahun 1902 Mbah Syamsul Hadi mohon izin kepada Kiai Asmu’in, untuk pindah mondok di Deresmo Surabaya. Di pondok ini beliau menambah ilmu pengetahuaan kepada KH Idris Dawud, terutama ilmu kanuragan, ilmu thoriqoh dan ilmu ma’rifat serta kitab-kitab lain seperri fiqih, ushul fiqih, nahwu, shorof, tafsir, dan hadits.

Saat mondok di tempat ini, Mbah Syamsul Hadi ditemani oleh Mbah Jamal Trowolu,  Mbah Sarwi Japah Batangan dan Imam Khurmain Kebat Sumberarum Jaken. Di Jawa Timur Mbah Syamsul Hadi menuntut ilmu selama kurang lebih empat tahun dengan berpindah-pindah dari pondok Dersemo Surabaya yang diasuh oleh KH Idris Dawud ke Pondok Tebu Ireng Jombang asuhan KH Ilyas dan ke Pondok Bangkalan Madura asuhan Syaikhona Kiai Kholi.

Beberapa saat kemudian beliau diminta Syaikhona Kiai Kholil untuk segera pulang ke Jawa Tengah, atau daerah asalnya. Sebab, menurut Syaikhona Kiai Kholil beliau telah ditunggu banyak santri di Pati, maka Mbah Syamsul Hadi pun pamit kepada para kiainya, kemudian pulang ke Jawa Tengah.

Akhir Tahun 1906, Mbah Syamsul Hadi tiba di Dukuh Wung-wung Desa Arumanis, Kecamatan Jaken, dan untuk memperkuat ilmu-ilmu yang telah diperoleh pergilah ke Dukuh Sobo Desa Sokorukun, Jaken. Hal itu untuk mentashihkan ilmu-ilmu syariatnya kepada KH Irsyad, barulah kemudian mulai membuka pengajan di Dukuh Weduni Desa Arumanis, untuk mendidik para santri seusai beliau menikah. (bersambung)