Perlu Digagas Munculnya Komunitas Penyalur Bantuan untuk Korban Bencana di Pati

0
134
Kiai Heppy Irianto.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Dalam kesempatan berbincang dengan ”Samin-News” di Kelenteng Hok Tik Bio Pati Jumat (12/2) malam (semalam), Kiai Heppy Irianto, memuji gerak cepat masyarakat Pati dalam keterlibatannya di tengah-tengah kondisi bencana banjir yang sudah berlangsung lebih dari sepekan ini. Terlebih khusus lagi, adalah bergeraknya berbagai kelompok maupun komunitas dalam menyalurkan bantuan untuk warga yang terdampak di daerah genangan.

Mengingat hal tersebut pada musibah banjir seperti di Tahun 2014 maupun 2017 juga pernah dilakukan, maka sekarang ini yang bersangkutan mencatat satu hal keterlibatan masyarakat yang benar-benar luar biasa. Hal tersebut bisa jadi karena pengaruh maraknya penggunaan alat komunikasi, sehingga yang belum membentuk kelompok-kelompok merasa tertinggal dengan yang lainnya.

Karena itu, kondisi dan potensi tersebut harus bisa lebih diberdayakan lagi, hal tersebut mengingat mengalirnya bantuan masyarakat kepada warga terdampak banjir ini benar-benar luar biasa. ”Hal itu tidak hanya terletak pada nilai semangat dan rasa kebersamaan, tapi juga mengalirnya bantuan material bak luapan banjir itu sendiri yang sudah tak bisa dibendung lagi,”ungkap Kiai Heppy Irianto.

Di tengah-tebgah kondisi tersebut, lanjutnya, maka perlu digagas munculnya komunitas atau apa pun namanya sebagi pihak yang perlau menangani dan mengatur alur pendistribusian banyaknya bantuan tersebut. Dengan kata lain, pola penyauran bantuan dari masing-masing komunitas maupun kelompok yang selama ini berjalan sendiri-sendiri bisa mulai diubah polanya.

Hal tersebut bukan bermaksud membatasi gerak kepedulian kelompok maupun komunitas penyalaur bantuan, tapi lebih tertumpu pada pola pengaturan penyalaurannya. Maksudnya, adalah untuk menghindari agar dalam penyaluran bantuan antara objek sasaran yang satu dan lainnya tidak dobel alokasi, seperti desa A sudah medapatkan penyaluran paket bahan pangan dari komunitas B, maka komunitas C tidak harus masuk lagi ke desa tersebut dengan bantuan yang sama pula.

Dengan demikian hal itu perlu adanya personel yang bertugas mengatur dan mengarahkan tujuan mengalirnya bantuan dari masing-masing kelompok dalam sebuah komunitas skala besar. Sehingga penyaluran bantuan benar-benar terkendali, sehingga pada akhir masa berlangsungnya penyaluran jika semua semua masyarakat terdampak sudah merata, maka bantuan berikutnya sudah tidak perlu disampaikan.

Berdasarkan pertimbangan kondisi tersebut, maka penyaluran bantuan dari awal harus benar-benar sesuai kebutuhan, yaitu nasi bungkus maupun nasi kotak untuk kebutuhan makan sehari-hari. Sehigga tidak tepat jika bantuan awal yang disalurkan kelompok peduli itu berupa bahan pangan, karena sudah pasti tak bisa dimanfaatkan.

Untuk menangani hal-hal seperti itulah yang membutuhhkan komunitas pengatur, termasuk jika masih ada bantuan yang lebih dari masing-mading kelompok bisa dimanfaatkan sebagai cadangan untuk bantuan berikutnya. ”Akan tetapi terbentuknya komunitas pengatur penyalur bantuan ini bisa terwujud, sepanjang masing-masing mempunyai kepentingan yang sama.

Yakni, tulus dan ikhlas berbuat yang terbaik untuk sesama,”tandasnya.