Alternatif Rencana Jalur KA; Satu-satunya Hanya Melintas di Sepanjang JLS Pati (11)

0
167
Ruas Jalur Lingkar Selatan (JLS) Pati yang masih mempunyai daerah milik jalan (DMJ) di sisi kiri dan kanannya.

Redaksi : Untuk melengkapi kebenaran tentang ramalan Sri Aji Jayabaya bahwa Pulau Jawa ini ”kalungan” (berkalung)” besi sebenarnya sudah lama lewat, tapi yang masih bertahan hanya di Pulau Jawa bagian selatan dan tengah. Sedangkan ”kalung besi” di Pulau Jawa bagian utara yang tersisa hanya di Semarang, karena yang ke timur mulai dari Demak-Kudus-Pati-Juwana-Rembang hingga Tuban-Jatirogo-Bojonegoro kalung besi itu sudah punah. Sehingga jika PT Kereta Api Indonesia (KAI) ingin membuat kalung besi kembali utuk jalur tersebut, alangkah baiknya kita tunggu saja.

SAMIN-NEWS.com , PATI – Dipastikan bahwa untuk rencana menghidupkan kembali jalur kereta api di pantura timur Jawa Tengah, untuk Pati pihak PT KAI sudah bisa lagi memanfaatkan jalur lama yang pernah ada, meskipun sisa-sisa asetnya yang masih ada juga di lokasi sama. Karena itu, satu-satunya alternatif adalah mengikuti tepi ruas Jalur Lingkar Selatan (JLS) Pati.

Hal itu bisa dilakukan setelah dari halte Kaliampo, di Desa Wangunrejo, Kecamatan Margorejo di jalan raya nasional Pati-Kudus tersebut sesampainya di ujung barat pertigaan masuk JLS di Desa Sokokulon, di wilayah kecamatan yang sama tetap harus melalui perlintasan. Jika dari lokasi ujung barat ini ke timur sampai di ujung timur JLS, di Desa Widorokandang, Kecamatan Pati akan diperoleh panjang jalur kereta api sekitar 12 kilometer.

Sedangkan dari ujung timur tersebut akan didapatkan lokasi bekas asetnya yang tidak banyak menimbulkan masalah, sampai memasuki Juwana dengan panjang jalur sekitar 7 kilometer. Sedangkan dari ujung barat hingga ujung timur JLS akan bisa didapatkan areal masih luas untuk lokasi pembangunan stasiun baru, sehingga semuanya memang benar-benar serba baru.

Daerah milik jalan (DMJ) sisi selatan Jalur Lingkar Selatan (JLS) Pati.

Dengan demikian, antara PT KAI dan pihak Binamarga tinggal berembug untuk memastikan digunakannya DMJ akses jalan nasional seperti JLS sebagai lokasi jalur KA. Jika DMJ masih belum mencukupi tentu masih bisa membeli lahan milik para petani di sebelahnya yang luasnya tentu sesuai kebutuhan, tapi kendati demikian masih juga belum bisa memuluskan gagasan untuk membeli tambahan lahan.

Akan tetapi, dengan rencana lokasi rel kereta api di pinggir JLS Pati, adalah alternatif satu-satunya yang tidak banyak menimbulkan permasalahan dibanding harus kembali menghidupkan jalur lama dengan rel ada di dalam kota. Kendati demikian, setelah memasuki Stasiun Juwana mulai menghadapi permasalahan karena aset tanah milik PT KAI yang sudah banyak dimanfaatkan oleh warga.

Ujung barat pertigaan Jalur Lingkar Selatan (JLS) Pati, di Desa Sokokulon, Kecamatan Margorejo.

Khusus stasiun Juwana jika mengundang banyak permasalahan jika nanti kembali dimanfaatkan, maka lebih baik stasiun tersebut ditiadakan dengan memanfaatkan maksimal fungsi halte di Guyangan dan Batangan untuk menuju ke Stasiun di Rembang. Dengan demikian jalur rel setelah lepas Widorokandang ke timur masuk Juwana, kemudian melintas di jembatan khusus kereta api di atas alur Kali Juwana.

Silakan  pihak konsultan yang saat ini tengah melakukan survei, untuk memainkan studi kasusnya!!