Solusi Haji Bagi Mahasiswa Bidikmisi

0
23

Sempat beberapa waktu lalu anak Bidikmisi menjadi bahan perbincangan karena lifestyle yang katanya tidak sesuai dengan latarbelakang dan dianggap menyalahi kodrat. Namun kali ini berbeda, saya akan coba memberikan sedikit gambaran yang mungkin saja bisa menjadi solusi atas salah satu harapan dan mungkin juga keresahan teman saya yang berstatus sebagai mahasiswa peraih beasiswa Bidikmisi yang ingin pergi Haji di usia mudanya. Melihat adanya peluang yang bisa dimanfaatkan dan dimaksimalkan, dari pengelolaan anggaran living cost anak Bidikmisi  yang diberikan setiap semester.

Berawal dari beberapa hari lalu ketika ada temen anak bidikmisi yang dateng kerumah, kita saling diskusi, saling bertukar informasi dan kemudian saling bertanya, hingga terlontar satu pertanyaan kepada saya yang notabene saat ini menyandang status mahasiswa juga dengan konsentrasi studi Manajemen Haji dan Umroh (MHU) disebuah kampus islam di Yogyakarta. Tanpa ba-bi-bu panjang lebar temen ini tanya “anak Bidikmisi seperti saya ini bisa pergi haji usia dini ngga ya ?”. Mendengar pertanyaan itu, saya pun terdiam, berfikir. Pertanyaan ini bukannya sulit untuk dijawab untuk seseorang seperti saya yang masih suka terlihat sok religius dengan apa-apa yang keluar dari mulut seringkali menisbatkan apa-apa atas nama tuhan, atas nama agama, namun belum memberikan solusi konkrit atau gambaran nyata atas kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan. Saya bisa saja menjawab ” Bisa, kalau Allah berkehendak pasti bisa”. Bukannya salah, namun bagi saya jawaban itu mungkin tidak akan cukup membuat sang penanya puas mendengarnya. Sehingga dibutuhkan solusi yang lebih konkrit. Dan saya yakin ada jawaban yang lebih bisa membuat temanku merasa puas, sekalipun kita dihadapkan dengan beberapa jalan buntu atas realita yang ada. Saya pun mencoba menyelam ke dasar pikiran, mencoba memberi jawaban dengan penjelasan yang solutif. Saya sendiri belum ada pikiran sampai kesana, pergi Haji ke tanah suci, sekalipun saya anak konsentrasi MHU yang sedikit banyak tahu dunia perhajian.

Di dunia perhajian Indonesia sendiri, masa tunggu keberangkatan Haji dari mulai daftar sampai berangkat rata-rata menginjak angkat tunggu 21 tahun menurut salah satu referensi yang ada. Hanya saja hal itu bisa menjadi lebih cepat atau bahkan lebih lambat. Hal ini terjadi atas beberapa hal, bisa lebih cepat salah satunya adalah bagi calon jama’ah haji yang telah menginjak usia lanjut usia, dan akan lebih lambat karena beberapa keadaan, bisa seperti keadaan saat ini, adanya wabah covid 19 yang memaksa pihak Arab Saudi menutup akses Haji dari berbagai negara untuk membantu mengatasi penyebaran wabah dan antisipasi, sehingga terdapat penundaan keberangkatan Haji tahun ini ketahun-tahun berikutnya apabila memungkinkan.

Rata-rata masa tunggu Haji yang begitu lama, khususnya haji reguler, membuat banyak pihak mensosialisasikan program Haji di usia muda. Selain anak muda yang identik dengan keadaan fisik yang lebih kuat dan sehat dibanding orang tua, juga karena masa tunggu yang terlalu lama, hal ini senada dengan rasaku yang tak kunjung mendapat lampu ijo darinya…heuheu.

Anak Bidikmisi ingin pergi Haji di usia dini, apa bisa?

Banyak cerita-cerita inspiratif yang bisa didapatkan diberbagai sumber dari orang sudah berhaji dengan latarbelakang kurang mampu. Ada yang menempuh dengan jalur menabung bertahun-tahun, menyisihkan rupiah demi rupiah untuk bisa berhaji, seperti cerita seorang pedagang kaki lima di Jakarta, atau ada juga yang menempuh dengan jalan nekat motoran bersama anaknya yang masih kecil, dari Jambi ke tanah suci, pak Lilik Gunawan yang menggunakan motor Yamaha Nmax selama berbulan-bulan dengan bekal pesangon 400 ribu pun berhasil kesana dengan banyak lika-liku tentunya. Artinya bahwa, modal terbesar untuk berangkat Haji itu bukan masalah kemampuan, namun modal terbesar adalah niat dan kemauan. Ketika terbesit kemauan dan niat, disertai dengan usaha dan do’a yang maksimal, bukan tidak mungkin jalan menuju tanah suci akan terlihat. Sekalipun punya uang segunung, tapi tak ada niat ke sana (Haji). Pasti uang itu tidak akan masuk ke setoran awal pendaftaran haji untuk dapetin nomor porsi. Jadi, sebenarnya anak bidikmisi juga mempunyai kesempatan yang sama, atau bahkan bisa dikata lebih besar. Kebiasaan hidup survive ala anak bidikmisi adalah modal utamanya. Bagaimana tidak, situasi dan kondisi secara tidak langsung memaksa untuk itu. Sehingga dalam hal ini anak bidikmisi harus merasa diuntungkan akan keadaan.

Disamping anak bidikmisi diuntungkan dengan keadaan yang sudah terbiasa hidup survive, mereka juga harus memulai untuk menabung atau memaksimalkan usaha agar bisa segera mendaftar haji mendapatkan nomor porsi. Untuk dana Bidikmisi secara utuh apabila berhasil didapatkan selama 8 semester 52.600.000, terpotong biaya pendidikan (UKT) per semester adalah 2.400.000X8= 19.200.000 selama 4 tahun atau 8 semester

Jadi, 52.600.000-19.200.000 untuk dana pendidikan = 33.400.000 untuk biaya hidup (living cost)

Total biaya living cost selama 8 semester adalah 33.400.000. ini sebenernya sudah sangat bisa untuk daftar haji dengan setoran awal 25 jt an untuk kemudian dapet nomor porsi keberangkatan Haji. Namun tentu saja, rasanya tidak mungkin uang living cost ditabung semuanya untuk Haji, karena tentu banyak kebutuhan lain yang harus dipenuhi seperti beli buku, bayar kost, beli skincare, beli pakaian, beli makan, beli kado ulangtahun pacar dan lain sebagainya. Saya pun tidak menyarankan untuk menabungkan uang living cost secara keseluruhan. Untuk bisa menjadi haji muda bagi mahasiswa bidikmisi perlu beberapa strategi : 1). Mulai nabung dengan sebisa mungkin sisakan uang living cost yang ada, syukur-syukur bisa utuh, karena kebutuhan sehari-hari sudah ketutup dengan pemasukan lain dari hasil kerja, entah itu kerja freelance atau sekedar cari cuan lewat jualan online. 2). Cari tempat tinggal ditanah perantauan yang murah, syukur dapet tempat sekaligus menyediakan makan secara gratis. 3) lakukan puasa-puasa.

Tentu hal ini tidak mudah, tapi kembali lagi pada niat dan kemauan. Perlu adanya strategi keuangan yang bener-bener jitu, juga berlaku pula skala prioritas, dimana uang dikeluarkan dan digunakan berdasarkan yang paling urgent. Naaahh,,, maka ketika sudah berkeinginan kuat menjadi haji diusia muda tentu saja, ketika uang Bidikmisi cair mending langsung dipindah rekeningkan ke tabungan Haji. Seringkali uang itu berputar begitu cepat ketika ada dalam genggaman, seperti itu kiranya yang saya rasakan. Maka butuh kesigapan agar tak lengah dalam pengelolaan dan siap secara fisik maupun mental untuk rekoso.

Strategi bertahan hidup sangat perlu kita canangkan dalam sehari-harinya. Lakukan puasa dalailul khoirot, puasa dilakukan setiap harinya selama beberapa tahun kecuali dihari-hari tertentu yang diharamkan untuk berpuasa. Atau lakukan beberapa akselerasi apabila dirasa berat, cari tempat pengabdian yang disana anda bisa mendapatkan fasilitas tempat menginap dan bermukim secara gratis seperti masjid, pesantren, lembaga sosial, atau komunitas yang memungkinkan akan hal itu. Yang tidak menutup kemungkinan juga biasanya tempat seperti itu memberikan fasilitas dapet jatah makan bahkan pesangon tambahan ketika kita bersedia mengabdikan diri disana. Jika dikata masih tidak mencukupi untuk estimasi mendaftar haji, sehingga diperlu untuk bekerja lakukan pula kerja freelance untuk tambahan pemasukan. Jadikan pemasukan dari hasil kerja sebagai pilihan terakhir, melihat ketika sudah berstatus kerja, tenaga dan waktu banyak terporsir, yang dikawatirkan mengganggu focus utama kuliah, yaitu mencari ilmu secara totalitas.

Apapun seni untuk bertahan hidup, sangat dibutuhkan dalam hal ini. Yang penting dan utama, hal yang sangat mendasar adalah amankan 25 jt lebih sedikit untuk mendaftar dan mendapatkan nomor porsi. Selebihnya dari sisa uang living cost itu adalah jatah untuk beli buku sekitar 8 jt selama 8 semester, atau ambil 1 jt setiap semester buat beli buku.

Sebenarnya banyak alternatif yang bisa dilakukan lagi, salah satunya adalah dengan berwirausaha. Jadi uang living cost yang ada bukan untuk langsung ditabung haji, namun diputer dulu untuk kemudian bisa jadi mendapatkan hasil yang lebih besar atau malah justru kehilangan kesempatan mendaftar lebih awal. Semua itu adalah pilihan.

Yang jelas untuk mendapatkan sesuatu yang diharapkan, dibutuhkan kerja keras, kerja cerdas dan kerja tuntas. Jiwa dan pikiran perlu dimanajemen dengan baik untuk sebuah harapan, pengalaman dan pembelajaran. Apapun yang kita lakukan, selalu ada jalan ketiga, ketika kita berani melakukannya secara bersamaan. Belajar dari seorang teman yang dia adalah seorang marbot masjid, dia kuliah, dia ngaji dipondok, dia juga bekerja dan dia adalah penerima beasiswa Bidikmisi.

Menjadi marbot masjid, selain dapet pahala, mendapat kesempatan bersosial yang lebih besar dengan warga, dia juga mendapatkan fasilitas tempat tinggal dan makan secara cuma-cuma setiap harinya. Dilain sisi dia juga aktif privat, dan jualan online untuk dapetin cuan tambahan. Artinya anggaran living cost yang diberikan kepadanya hampir bisa sepenuhnya disisakan, hanya saja olehnya sengaja selalu menggunakan satu juta dari living cost untuk membeli buku. Mengupgrade pengetahuan dan pengalaman berfikir.

Banyak alternatif lain yang bisa dilakukan, hanya saja mungkin ini bisa menjadi salah satu jawaban konkret untuk temenku atau mahasiswa baru Bidikmisi lainnya yang punya cita-cita menjadi Haji muda. Selama niat itu bagus, tidak masalah sekalipun uang bidikmisi yang seharusnya digunakan untuk keperluan sehari-hari malah ditabung untuk daftar haji. Yaaa… Daripada uang hanya dijadikan pemuas nafsu makan, lebih baik ditabung, sehingga diri bisa belajar rekoso, dengan berpuasa, tidak menuruti nafsu dan terbiasa hidup susah. Sehingga apabila suatu saat tuhan berkehendak kita berada diposisi atas dan menjatuhkannya lagi pada kehidupan yang lebih bawah, kita ngga kaget, ngga stress, ngga sedih secara berbelihan, biasa saja.

Pengirim: Maulana Rizky Amrullah (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)