Berbagai Cara Tim Pemakaman Covid-19 untuk Mengusir Rasa Bosan

0
63

Mencermati pembiacaraan mereka dalam menunggu saat menghadapi kejenuhan karena jenazah yang ditunggu dari rumah sakit yang biasanya di antar ambulans juga tidak kunjung datang, kadang-kadang tim pemakaman dari Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Pati ini, kadang berkumpul bersama tapi juga tak jarang hanya berkumpul berasama dua atau tiga orang saja, tergantung apa yang dibicarakan.  Seperti pada Kamis Pon (3/12) malam Jumat Wage (4/12) saat menunggu utuk memakamkan jenazah almarhum seorang perempuan warga Desa Payang, Kecamatan Pati, saat itu sudah pukul 22.30, maka dimulai dari cerita ringan karena di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bandil desa setempat itu juga ikut hadir dan bergabung beberapa warga setempat, sehingga ceritanya pun dimulai dari hal-hal yang berbahu horor, dan sampai juga salah seorang di antara anggota tim itu menceritakan pengalamannya saat baru gila dengan kode buntut.

Selebihnya, salah seorang warga setempat yang ikut bergabung sambil menunggu kedatangan jenazah menceritakan ”laku” puasa 40 hari karena inggin bisa bertemu dengan Ki Gede Payang atau juga Ki Gede Dipokerti, karena ingin meminta salah satu pusaka piandelnya, yaitu besi kuning yang ternyata setelah diminta tetap tidak diberikan, dan kuda milik Ki Dipokerti menurut orang tua itu tempat/kandangnya memang di sisi selatan Makam Bandil. Sedangkan di tengah kesempatan tersebut, tim BPBD juga berpesan sendri soal tugas mereka sebagai relawan tim  pemakaman yang akan segera berakhir pada akhir bulan ini (Desember), dan memang sudah ada yang mendengar kalau saat ini sudah dimulai lagi pendaftaran untuk menjaring 16 orang relawan, dan jika memang itu sudah banyak yang mendaftar maka tim yang sekarang ada yang  memang sudah diliputi rasa bosan, dan salah satu faktor penyebabnya juga mereka sudah siap di lokasi pemakaman tapi kedatangan jenazah terlamabat lebih dari dua jam, dan beberapa faktor lainnya.

(Foto:SN/aed)