Bahaya Laten Covid-19

0
64

JUMLAH korban yang meninggal karena covid semakin bertambah. Berdasarkan laman facebook kawalcovid19.id pada Kamis, 10 Desember, jumlah kasus covid di Indonesia mencapai 623.453 dengan total meninggal 21.758. Jumlah yang meninggal tersebut di antaranya adalah para kiai.

Terkait jumlah kiai yang wafat di masa covid, Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (RMI) PBNU mencatat, sejak awal pandemi hingga 15 November 2020, terdapat 148 kiai dan pengasuh pondok pesantren yang wafat, baik karena covid atau pun tidak.

Warta kematian para kiai -juga korban lainnya- adalah berita pilu. Terlebih para kiai yang notabene adalah panutan umat.  Ketua RMI, KH Abdul Ghaffar Rozin, menyatakan bahwa kalau mencetak insinyur, dokter dan profesi-profesi lainnya bisa dilakukan dengan cepat. Tapi mencetak kiai dan orang-orang yang bisa menjadi panutan dalam beragama, bukan hal yang mudah.

Bahaya laten

KH Musthofa Bisri mengatakan mautul a’lim mautul ‘alam. Sebuah ungkapan yang menyiratkan bahwa kematian orang alim menjadi isyarat akan melemahnya kualitas umat. Hal ini mengingat kiai adalah punjer dari kehidupan umat. Umat manusia membutuhkan pedoman, panutan dan sosok ‘alim yang bisa membimbing manusia. Dan hal itu kita temukan dalam sosok kiai (habib, ustaz, ajengan, syeikh, dlsb).

Rasulullah saw. pernah bersabda bahwa tidurnya orang alim lebih utama daripada ibadahnya orang bodoh. Hadis ini menegaskan bahwa orang alim (terdapat pada sosok kiai) memiliki derajat tinggi di mata Tuhan juga kedudukan mulia di mata manusia. Artinya, warta wafatnya para kiai di masa Covid-19 ini “memberi sinyal” bahwa dunia kehilangan sosok pilihan.

Dampak dari wafatnya kiai tentu saja tidak sederhana. Kita kehilangan “pendidik dan pemikir”. Dikatakan “pendidik” karena kiai ibarat mata air ilmu yang darinya kita menyerap pengetahuan. Bahkan dalam konteks dunia pesantren, pendidikan yang dilakukan kiai sangat luar biasa. Para kiai dalam mendidik tidak hanya menyentuh aspek lahiriah siswa semata, melainkan aspek rohaniah juga. Selain mendidik, kiai juga mendoakan.

Kiai juga adalah sosok “pemikir” di mana pemikiran para kiai memberi sumbangsih berharga, dari aspek keilmuan sampai aspek sosial. Salah satu kiai pemikir yang kontribusinya sangat berharga adalah Kiai Sahal Mahfudz. Melalui fiqh sosial, beliau memberi cakralawa segar ihwal bagaimana membawa fiqh ke dalam ranah sosial. Tak pelak lagi, “ijtihad”  Kiai Sahal tersebut pada akhirnya memberi nilai-nilai positif bagi kehidupan bermasyarakat.

Di sisi lain, Kiai Sahal juga menjadi tauladan bagi masyarakat sekitar, dari mulai para santri hingga kehidupan masyarakat secara umum. Kiai Sahal adalah rujukan, panutan, sekaligus “tempat mengadu”. Pendek kata, Kiai Sahal adalah poros.

Sampai di sini terlihat dengan gamblang betapa vitalnya sosok kiai bagi umat. Tak berlebihan kiranya kalau wafatnya para alim, meminjam Istilah KH. Musthofa Bisri, adalah kematian bagi alam.

Karena itu, di masa pandemi ini, KH Abdul Ghaffar Rozin, melalui acara daring bertajuk Doa untuk Keselamatan Bangsa, memohon kepada kiai dan pengasuh pesantren untuk benar-benar menerapkan protokol kesehatan. Sebab, bangsa Indonesia membutuhkan sosok alim yang tercermin seperti dari diri para kiai.

Covid-19 menyimpan bahaya tersembunyi karena Covid-19 merenggut kehidupan dengan “lembut dan halus”. Tak berlebihan kiranya jika covid dikatakan menjadi momok di tahun 2020 yang menyimpan bahaya laten. Apalagi jika yang menjadi korban adalah para kiai, para pendidik, maupun orang-orang berpengaruh yang kontribusinya sangat besar bagi umat dan bangsa Indonesia.

Dalam rangka memutus mata rantai Covid-19, hal yang dapat dilakukan bersama adalah selalu mematuhi protokol kesehatan dan berdoa agar Covid-19 segera berakhir. Sehingga, tidak ada lagi warta pilu tentang wafatnya para kiai -dan orang Indonesia pada umumnya- karena Covid-19.

Pengirim : Rohman Abdullah (Mahasiswa IPMAFA)