Petani Pati Selatan Panen Jagung

0
29
Seorang petani tengah memanen tanaman jagungnya dengan cara melepas dan meninggalkan kulit (klobotnya) di pohon, serta hamparan tanaman jagung lainnya yang juga siap dipanen.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Bagi para petani pada musim tanam (MT) III saat kemarau seperti sekarang, ternyata tidak ada tanaman palawija yang mengalami gagal panen. Beberapa waktu lalu hampir seluruh petani di wilayah selatan alur Kali Juwana, mulai dari Kecamatan Gabus, Jakenan, Jaken, Winong, Pucakwangi, Margorejo, dan Kecamatan Pati berhasil memanen kacang hijau dengan harga jual yang tetap menguntungkan.

Beberapa waktu berikutnya hingga sekarang, ganti para petani di wilayah kecamtan tersebut juga mulai ramai memanen jagung, utamanya di lahan kawasan sekitar Pegunungan Kendeng. Tak ketinggalan para petani di sekitar kawasan objek wisata Gua Pancur, di Desa Jimbaran, Kecamatan Kayen, dan semakin ke selatan masih terdapat banyak desa penghasil palawija jenis tersebut.

Untuk pelaksanaan panenan, rata-rata tidak ada yang dijual dengan sistem tebasan seperti saat musim panenan padi, sehingga para petani harus memanennya mulai dari mengupas kulit (klobotnya) saat jagung masih ada di pohonnya. ”Kemudian dibiarkan sampai kering di lahan, baru dibawa pulang utuk dijemur di rumah,”ujar Sumarno, salah seorang petani di Dukuh Poncomulyo, Desa Gadudero, Kecamatan Sukolilo.

Kegiatan para pembeli jagung pipil dari para petani kemudian dijemur lagi, sebelum dijual ke pabrik yang melakukan pembelian sebagai bahan baku pakan ayam.

Di luar itu, lanjutnya, juga ada yang dijemur di sawah kemudian datang mesin pemipil masuk ke lahan sehingga jagung yang dilepas dari pohonya, dan masuk ke mesin pemipil sudah lepas dari pongkolnya (janggel). Dengan demikian, biji jagung tersebut bisa dijemur dalam bentuk pipilan dan dikemas dalam karung sudah kering.

Jika ada yang membeli, dan cocok harganya tinggal dilakukan penimbangan sehingga sekarang semua sudah serba cepat dalam hal memanen baik panenan padi maupun palawija, karena semua sudah serba menggunakan mesin. Hanya saja dari sisi harga jual untuk jagung pipil ini belum bisa stabil, karena kadang-kadang mendadak turun, dan kadang juga mendadak naik.

Akan tetapi untuk kenaikannya juga belum bisa mencapai Rp 4.000 per kilogram, sehingga harga jual sampai saat ini masih berkisar antara Rp 3.500/kilogram tapi kadang juga bisa mencapai Rp 3.700 atau Rp 3.800 per kilogram, sehingga banyak yang tetap memilih untuk bisa menanam kacang hijau karena harga jualnya masih bisa laku di atas Rp 10.000 per kilogram,”imbuhnya.