Hasil Bedah Rumah Turiman Ada Terpasang Jendela dan Lubang Angin

0
115
Turiman warga Desa Sunggingwarno, Kecamatan Gabus yang merupakan salah satu dari sebelas warga yang mendapat alokasi bantuan bedah rumah dari dana aspirasi anggota DPR RI asal Pati, Sudewo.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Selesai bedah rumah miliknya yang dibiayai dana aspirasi salah seorang anggota DPR RI asal Pati, Sudewo, rumah milik salah satu dari 11 warga lainnya yang mendapat alokasi bedah rumah tersebut di Desa Sunggingwarno, Kecamatan Gabus, Turiman, meskipun berdinding bata putih (hebel), tapi berubah menjadi pengap. Sebab., waktu itu dinding tembok-tembok rumah tersebut sama sekali tidak berjendela.

Akan tetapi setelah dilakukan pembenahan ulang, sekarang kondisinya berubah, di mana dari dinding tembok ruang tamu dan ruang tengah terpasang dua jendela kaca. Hanya saja dua jendela tersebut ditambah dua jendela lainnya di dua kamar, tidak bisa dibuka karena kacanya langsung menempel pada kusen jendela, sehingga ruang tamu maupun kamar tidur bisa terang bila ada sinar matahari di balik jendela kaca tersebut.

Untuk sirkulasi udaranya, ungkap Turiman, adalah menggunakan lubang angin dari roster yang terpasang terutama di ruang tengah dan ruang tamu. ”Dengan begitu pergantian udara dalam rumah adalah terjadi lewat lubang angin tersebut, meskipun hal tersebut juga dirasakan sangat terbatas,”ujarnya.

Dari samping kiri rumahTuriman selesai dilakukan bedah rumah dan pembenahan saat ini terlihat tampak ada dua jendela dan empat lubang angin dari roster yang terpasang.

Selain bertima kasih atas tindak lanjut pembenahan selesai bedah rumah miliknya, masih ungkap Turiman, saat ini juga timbul kekhawatiran dalam menghadapi datangnya musim penghujan. Apalagi cuaca dalam perubahan musim, atau yang lazim disebut musim ”labuhan” biasanya jika turun hujan pada siang maupun sore hari itu disertai bertiupnya angin kencang.

Padahal, bagian kerangka atap rumah yang menopang pada blandar ternyata sama sekali tidak diikat dengan penguat apa pun. Dengan kata lain, karangkap atap tersebut hanya ditopangkan pada blandar, kemudian diperberat dengan atap genteng sehingga jika diterpa angin sama sekali tidak ada penguat yang mengikat antara bagian kerangka atap dan blandar.

Mengingat hal tersebut, maka dia akan minta penjelasan kepada orang yang tahu bangunan khususnya pemasangan kerangka atap yang hanya ditopangkan pada blandar tanpa disertai pengikat maupun penguat sejauh mana kemampuannya bertahan saat ada angin kencang. ”Sedikit beruntung, karena bagian atap rumah kami ini terhitung cukup rendah,”imbuhnya.