Ini Anggota Komisi D H Djamari,;Sosok Pemeran Ki Gede Jiwonolo

0
Anggota Komisi D lainnya, H Djamari sebagai pemeran Ki Gede Jiwonolo dalam pementasan Ketoprak Praja Budaya.(Foto:SN/dok-adv-aed)


SAMIN-NEWS.COM  PATI-Pemeran sosok tokoh Ki Gede Jiwonolo dalam cerita pertunjukan seni panggung, Ketoprak Praja Budaya, ini ke depan memunculkan harapan bahwa seni pertunjukan rakyat ini tidak lagi menjadi yang terancam terpinggirkan. Akan tetapi, kesenian tradisional ini justru benar-benar mampu menjadi ikon di kabuoaten yang merupakan gudangnya grup ketoprak ini.
Apalagi, jika antara pihak eksekutif dan legislatif sudah membingkai kesadaran dalam berkesenian, maka kesenian yang pada awalnya hanyalah sebuah tontonan akhirya bisa menjadi tuntunan bagi masyarakat. Dengan demikia , pihak yang berwenang dan berkompeten ini sama-sama tumbuh kesadaran untuk selalu menjaga dan tetap melestarikannya.
Sebab, bagi H Jamari, berkesenian ini juga bisa menjadi ermin dari bidang tugasnya sehari-hari di Komisi D DPRD Pati yang berkait pula dengan kesenian dan kebudayaan. Sehingga komisi yang ersangktan, kini tengah menggodog Perda prakarsa tentang Kemajuan Seni Budaya Daerah sebagai implementasi UU No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Di sisi lain dalam hal seni peran, hal itu bukan hal asing bagi dia karena beberapa kali ikut ambil bagian dalam pembuatan film  cerita yang menggunakan ediom ketoprak. Yakni, film serial cerita Saridin, sehingga untuk memerankan tokoh dalam pergelaran ketoprak seerti yang tengah berlangsung di Alun-alun Simpanglima Pati malam ini, tak ubahnya dia kembali bermain film.yang dimulai oleh Kelompok ”Creativ Media Community” (CMC) Pati.
Jika upaya memprodeuksi film cerita serial ini tidak berkelanjtan, karena produer sudah kehabisan biaya. Sebab, ketika proes pembuatan film tersebut berakhir, di masyarakat sudah beredar VCD mauun DVD bajakan, sehingga produser dan pemain yang tidak berbayar pun hanya gigit jari, sehingga untuk memproduksi film-film cerita lokal pun jera.
Dua anggota Komisi D DPRD Pati ini beroeran berpasangan sebagai Ki Gede Jiwonolo dan Nyi Jiwonolo.(Foto:SN/dok-adv-aed)

Terlepas dari hal tersebut, dalam perannya sebagai Ki Gede Jiwonolo, dalam cerita Mendut Boyong ini, Jamari tentu memahami karakter tokoh yang bersangkutan. Sebagai orang tua dari seorang anak yang tengah kasmaran, Joko Kemudo terhadap Roro Mendut putri Ki Gede Rogowongso bisa dipastikan bahwa cinta keduanya tak bisa berkelanjutan, dan bahkan putus di tengah jalan.
Faktor penyebabnya tak lain perbedaan dalam strata kehiduoan sehari-hari, meskipun di antara keduanya adalah antara kakak dan adik seperguruan. Karena itu ketika upaya melamarkan putranya ditolak, maka muncul satu sikap reaksioner sebagaimana ketika dia masih muda, jika menginkan sesuatu tidak bisa didapat dengan aturan dan tata kehidupan bermasyarakat, jalan satu-satunya hanya dengan jalan berisiko.
Hanya masalahnya ketika hal itu disampaikan kepada putranya, Joko Kemudo peristiwa keributan antara Ki Gede Rogowongso dan Ki Gede Jiwonolo bersama putranya Joko Kemuo yang lamarannya ditolak, penyelesaian oleh sutradara, Guru Warsito, Ki Gede Rogowongso membuka sayembara, dan anehnya Adipati Wasis Joyokusumo pun ikut dalam sayembara tersebut.
Sedangkan yang disayembarakan adalah ontran-ontrannya Joko Kemudo yang hendak membawa lari Roro Mendut. Singkat cerita, Sang Adipati berhasil memenangkan sayembara tersebut, sehingga Roro Mendut pun diboyong ke dalem kadipaten, tapi cerita beum berakhir karena tertempel  cerita munculnya dua pemuda pendatang dari Sumenep, Madura, yaitu Kuda Panoleh dan uda Sinanteran yang juga tertarik atas kecantkan Roro Mendut.
Padahal kedatangan keduanya ke Pati, adalah untuk mencari dan menuntut balas atas kematian ayahnya, dan juga sekaligus mencari pamannya, yaitu Patih Penjaringan. Karena menggoda Roro Mendut, maka keduanya harus mati di tangan Adipati Wasis Joyokusumo.
Menghadapi kondisi putranya Joko Kemudo yang merasa tidak bisa dipisahkan dengan Roro Mendut, maka Ki Gede Jiwonolo pun memerintahkan putranya untuk menuju ke Mataram. Kepentingannya apalagi jika tidak untuk mencari Roro Mendut, inilah cerita yang berbalik logika karena diceritakan bahwa Roro Mendut itu diboyong ke dalem kadipaejn, mengapa Joko Kemudo disuruh menuju ke Mataram?(sn/adv)