Hari Ini Dewa Dapur Menyampaikan Laporan Kepada Thian

0
31
Seorang ”biokong” di Kelenteng Hok Tik Bio di Kompleks Pecinan Pati, Antok tengah melakukan sembayangan, karena Rabu (26/Januari) 2022 hari ini atau Rabu bulan 12 tanggal 24 Imlek 2572, Dewa Dapur (Chunkunkong) berangkat meninggalkan bumi menemui Thian.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Jika menjelang datangnya Tahun Baru Imlek 2573, masih ada yang belum memahami, bahwa menyambut datangnya tahun baru itu bukanlah ritual suatu agama. Dengan demikian, bangunan kelenteng pun bukan merupakan suatu tempat ibadah, melainkan sebuah fasilitas bangunan budaya peninggalan leluhur Suku Bangsa Tionghoa.

Sedangkan leluhur suku dimaksud, sejak peradabannya berkembang dan menyebar ke berbagai penjuru dunia, maka budaya leluhur suku bangsa itu masih melekat dan dihormati oleh para keturunannya hingga sekarang. Salah satu penghormatan itu tak lain, menjalani laku ritual yang juga menjadikan bagian dari peninggalan budaya para leluhurnya.

Salah satu di antaranya, papar seorang Koordinator dari Kelompok Gusdurian Pati yang tiap tahun menggelar budaya, menyambut datangnya Tahun Baru Imlek, KH Happy Irianto. Sehingga apa yang dilakukan suku keturunan ini, bukanlah ritual dari suatu agama melainkan ritual budaya, termasuk menghormati keberangkat Dewa Dapur menghadap Thian.

Hal itu sama saja, seperti Suku Jawa yang sampai saat ini masih  mempunyai dan masih melaksanakan budaya tradisi yang biasa disebut ”bancak,” dan juga sebutan lain dari ”barikan,” serta kenduri. ”Latar belakang peristiwa berlangsungnya ritual tersebut tentu juga bermacam-macam, dan pada intinya adalah memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa,””ujarnya.

Dengan demikian, apa yang menjadi tradisi dan masih melekat bertahun-tahun dan berabad-abad dalam rentang waktu kehidupan itu, adalah suatu budaya. Sehingga sebagaimana layaknya, Suku Jawa sampai saat ini juga masih melestarikan budaya kenduri, sebagai bentuk salah satu upaya menciptakan kerukunan di antara sesama mereka.

Adapun bentuknya, yang diutamakan tentu berupa persembahan makanan yang kemudian didoakan sebagaimana yang menjadi maksud tujuan pihak yang menyelenggarakan. Karena itu, makanan persembahan yang didoakan itu tentu disebut ”berkat,” atau yang merupakan kata lain dari ”berkah” atau makanan yang memberikan berkah, karena sebelum dimakan sudah terlebih dahulu didoakan.

Karena itu, sampai di sini tentu untuk memahami hal tersebut sebenarnya bukanlah hal sulit, karena tradisisi yang secara rutinitas yang dilakukan dalam kurun waktu atau momen tertentu, sebenarnya adalah sebuah peristiwa budaya.Jika suku bangsa Tionghoa itu memberikan persembahan makanan, untuk para leluhurnya hal itu adalah kata lain dari bentuk berbaktinya mereka kepada para leluhur.

Demikian pula, ketika sembayangan dalam rangkaian ritual menyambut Tahun Baru Imlek, termasuk sembayang berangkatnya Dewa Dapur berangkat meninggalkan bumi untuk menghadap dan melapor kepada Thian, jelas itu bukan ritual agama. ”Itulah bagian dari ritual budaya untuk para leluhur Suku Bangsa Tionghoa,”tandasnya.