Emak-emak Orang Tua Murid SDN 03 Sukoharjo Minta Hasil Ketoprak GSMS Kembali Dipentaskan

0
190
Penabuh gamelan pengiring pertunjukan ketoprak hasil Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) di SDN 03, Sukoharjo, Kecamatan Wedarijaksa dan pemain yang harus melakukan adegan laga.(Foto:SN/dok-aed)

SAMIN-NEWS.com, SAAT hasil pembelajaran Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) dimainkan dalam pertunjukan ketoprak di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Pati, beberapa waktu lalu memang tidak banyak orang tua yang tidak bisa melihat langsung kiprah putra-putrinya. Sehingga banyak di antara orang tua murid terpaksa harus menonton dengan cara mengintip dari balik jendela.

Masalahnya, pertunjukan tersebut dimainkan secara virtual karena masih berlangsungnya masa pandemi Covid-19 yang belum berakhir. Sehingga penonton yang ada dalam ruangan pertunjukan jumlahnya pun dibatasi, yaitu hanya kepala sekolah beserta beberapa guru, dan komite sekolah yang bersangkutan.

Dengan demikian, banyak orang tua murid, termasuk kalangan ”emak-emak” seperti dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) 03 Sukoharjo, Kecamatan Wedarijaksa, Pati yang sampai saat ini masih penasaran untuk bisa melihat langsung kemampuan putra-putrinya dalam menabuh gamelan maupun bermain ketoprak. Karena itu, mereka ini meminta agar seniman yang memberikan pembelajaran seni pertunjukan tersebut menggelarnya pertunjukan ulang.

Hal tersebut dibenarkan seniman yang bersangkutan, Wawan Laras Budoyo yang beberapa hari lalu diajak membahas masalah tersebut oleh ”emak-emak” dan pihak sekolah, untuk mementaskan hasil pembelajaran GSMS. ”Kami menyanggupinya, dan biaya produksinya menghabiskan lebih dari Rp 10 juta, mereka pun sanggup untuk menutupnya dengan menghimpun iuran,”ujarnya.

Anak-anak peserta pembelajaran GSMS SDN 03 Sukoharjo, Kecamatan Wedarijaksa, Pati dalam pertunjukan ketoprak membesut cerita ”Brubuh Kediri.” (Foto:SN/dok-aed)

Karena emak-emak ini cukup antusias, lanjutnya, maka ia pun menyanggupi asal pihak yang berwenang memberikan izin, termasuk pihak kepala desa setempat juga tidak keberatan. Kendati pihaknya juga menghendaki agar pertunjukan tersebut digelar dalam lingkungan sekolah menggunakan panggung lengkap dengan tenda peneduhnya untuk bersiap-siap menghadapi turunnya hujan.

Selain itu, waktu yang dipergunakan pun harus pagi sampai siang hari dengan durasi maksimal tiga jam, karena pertunjukan tersebut lengkap disertai pembukaan menampilkan tari gambyong. ”Demikian adegan laga juga terjadi penambahan waktu, karena kami masuk tambahan pemain ketoprak profesional agar anak-anak bisa belajar langsung dari mereka untuk adegan laga ini,”paparnya.

Adegan lawak dan tamansari dalam pertunjukan ketoprak hasil pembelajaran GSMS SDN 03 Sukoharjo, Kecamatan Wedarijaksa, Pati beberapa waktu lalu.(Foto:SN/dok-aed)

Penambahan waktu pertunjukan juga tak bisa dihindari, karena dalam adegan lawak dia akan memasukkan pula komedian ketoprak profesional, agar dua anak yang harus memainkan ini bisa belajar materi lawakan dari seniornya. Dengan penambahan-penambahan ini, anak-anak akan mempunyai tambahan pengalaman, sehingga biaya produksi pementasan ini mencapai sebesar itu.

Untuk sementara ini, pelaksanaan latihan belum dimulai karena kesibukan sekolah yang saat ini harus menyelenggarakan ujian nasional berbasis komputer (UNBK). ”Akan tetapi setelah 25 November nanti kami akan memulai latihan dengan menggarap gamelan pengiring tari gambyong,”imbuhnya.