Hari Kedua; Ada GSMS Penyaji Tontonan yang Tidak Kedodoran

0
214
Didukung penabuh gamelan pengiring cukup energik, tampilan pemain ketoprak GSMS SD Negero 02 Sunggingwarga. Kecamatan Gabus, tetap enak untuk ditonton karena runut tidak sampai kedodoran.(atas). Salah satu adegan tontonan ketoprak yang bersangkutan dalam lakon , ”Alap-alapan Dewi Sekartaji,”Jumat (29/Oktober) petang kemarin.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, DI hari kedua penyajian ketoprak sebagai seni pertunjukan dari Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS), di SD Negeri 02 Sunggingwarga, Kecamatan Gabus, di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Pati, Jumat (29/Oktober) petang kemarin, ternyata tidak sampai kedodoran. Dari adegan satu ke adegan yang lain, semua mengalir dalam alur dengan ritme sedang-sedang saja, sehingga yang sempat melihat sajian  tersebut bisa menikmatinya.

Apalagi dukungan penabuh gamelan yang juga dari anak-anak murid SD tersebut, ternyata cukup energik sehingga tak mengenal lelah di bawah asuhan seniman GSMS Slamet Tewel. Yang bersangkutan juga sekaligus pelatih serta sutradara besutan lakon ”Alap-alapan Dewi Sekartaji” yang ditampilkan dalam seni pertunjukan tersebut oleh para pemerannya tidak membosankan, sehingga siapa pun akan betah melihat anak-anak ini tampil di atas panggung.

Akan tetapi sekali lagi, berkat dukungan guyubnya penabuh gamelan pengiring sejak awal hingga akhir, ternyata mampu menutup beberapa kelemahan yang masih melekat pada diri anak-anak. Yakni, vokal dalam dialog yang intonasinya masih terasa seperti orang menghafal. sehingga hal tersebut akan muncul dengan standar vokal seorang pemeran dalam seni pertnjukan, setelah nanti usianya memasuki masa remaja.

Terlepas dari hal tersebut, maka kompaknya penabuh gamelan pengiring pertunjukan itu tetap mempunyai nilai lebih, sehingga sangat disayangkan jika selesai program GSMS mereka juga akan selesai pula kelanjutan mereka dalam berproses. Salah satu bukti kelebihan mereka, satu di antaranya ketiga diajak mengiringi pembuka atau awal dimulainya pertunjukan dengan irama ”sampakan,” ternyata membuat kita berdecak.

Adegan tamansari, ketika para emban menghibur Dewi Sekartaji dengan gending-gending ceria karya Sang Maestro Ki Narto Sabdo, seperti Perahu Layar maupun Aja dipleroki, penabuh gamelan pengiringnya juga tak ketinggalan dengan orang dewasa.(Foto:SN/aed)

Demikian pula dalam adegan tamansari, di mana para emban harus menghibur putri Dewi Sekartaji dengan gending-gending ceria, ciptaan Sang Maestro Ki Narto Sabto, seperti Perahu Layar maupun Aja dipleroksi, dan juga gending yang lain, ternyata sejumlah panita yang bertugas dalam pelaksanaan hari kedua ini, ternyata tak bisa diam. Akhirnya, beberapa orang pun berjoget bersama sampai adegan tersebut berakhir.

Karena itu di bawah asuhan pelatih yang disindir dalam adegan lawak sebagai ”pelatih galak” galak tersebut, ternyata mampu mendorong proses pembelajaran anak-anak dengan capaian hasil cukup menggembirakan. Jika tidak dengan hasil itu, maka pantia yang mendengarkan tabuhan gamelan pengiring, tentu tidak akan merespons bahkan sampai ikut berjoget bersama, dan kelebihan dalam mengiringi adegan demi adegan para pemain juga tidak sampai tersendat.

Gembong Amijoyo (barongan) utusan dari raja Bantarwaringin untuk melamar Dewi Sekartaji putri Raja Kediri yang ditolak perwakilan kerajaan tersebut, Nayantaka untuk mengalahkan Gembong Amijoyo harus minta bantuan sahabatnya seorang raksasa, Jaka Lodra.(atas). Gembong Amijoyo yang berhasil dikalahkan minta ampun dan tunduk pada Nayantaka, dan Jaka Lodra pamit akan kembali ke tempatnya sebagai penjaga Alas Tambakboyo, di Kediri.(bawah)(Foto:SN/aed)

Sementara itu, untuk hari ketiga, Sabtu (30/Oktober) 2021 hari ini, sebanyak 6 penyaji GSMS kembali tampil satu per satu, dimulai dari sejak pagi tadi. Adapun yang pertama juga tampilan seni pertunjukan ketoprak dari GSMS SMPN 1 Margorejo dengan membesut lakon ”Jaka Kendil,” dilanjutkan penyajian berikutnya juga masih pertunjukan ketoprak dari GSMS SD Negeri 03 Margorejo, Kecamatan Margorejo dengan membawakan lakon Ande-ande Lumut.”

Selesai itu dilanjutkan tampilan dari GSMS SDN 01 Pasucen, Kecamatan Trangkil dengan lakon ”Adege Majapahit,” disusul nanti sore tampilnya GSMS dari SDN Tayu Wetan 03, Kecamatan Tayu tidak dalam bentuk ketoprak, melainkan kesenian tradisional khas Pati yang nyaris punah, yaitu Mandailing dengan lakon ”Kapal Kamarung.” Malamnya dilanjutkan dengan seni musik dari GSMS SD Muhammadiyah Pati dalam ”Dakwah Kalijaga melalui Kesenian,” dan terakhir kembali tampil seni pertunjukan ketoprak GSMS SD Negero 01 Medani, Kecamatan Cluwak dengan lakon ”Rara Jongrang”.