Di Lorong Indah; Televisi Bukan Lagi Sebagai Barang Berharga

0
59
Apa pun merk pesawat televisi model tabung yang ditempatkan di emper belakamg rumah di kompleks Lorong Indah (LI), di Desa/Kecamatan Margorejo, bisa dipastikan bukan lagi sebagai barang berharga.

SALAH satu sisi pemandangan yang tidak lazim ini, tampak di lingkungan kompleks Lorong Indah (LI), di Desa/Kecamatan Margorejo. Yakni, sebuah pesawat televisi tabung yang bukan merk produk terkenal sekarang ini sengaja di tempatkan di atas sebuah meja pendek, dan untuk menaruhnya pun cukup di emper belakang rumah yang tidak begitu lebar.

Dengan demikian, jika mendadak turun hujan barang tersebut pasti akan tertimpa percikan air hujan karena tempias atap emper. Itulah salah satu pemandangan yang tidak lazim, dan saat ini muncul di lokasi kompleks pelacuran yang sudah selama tiga pekan ini ditutup total oleh pihak berkompten, dan dilakukan penjagaan siang/malam.

Jika melihat kondisi barang yang sekarang sudah tidak mempunyai nilai jual maksimal tersebut, bukanlah barang rusak. Akan tetapi, barang kali jika ada yang tahu saat ditanya mungkin akan menjawabnya berdasarkan fakta yang terjadi saat ini di lokasi kompleks pelacuran tersebut yang memang secara resmi sudah ditutup.

Demikian pula jika ditanya, siapa yang menempatkan televisi di emper belakang rumah di bagian lorong 1 itu, maka jawabnya pun masih berdasarkan kemungkinan. Yakni, induk semang atau pemilik usaha warung remang-remang yang bersangkutan, sehingga televisi itu jelasnya adalah milik salah seorang pelacur yang menghuni warung tersebut.

Dasarnya perkiraan dimaksud, karena sebelum ditutup secara resmi seluruh lorong di kompleks tersebut sebulan sebelumnya memang sudah harus tutup, karena berlangsungnya masa pandemi Covid-19 yang tak kunjung selesai. Karena itu, pihak yang berkompeten harus melaksanakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM)

Karena itu, saat seluruh warung remang-remang harus tutup maka salah satu pelacur yang mempunyai televisi di kamarnya belum sempat di bawa pulang. Sebab, untuk membawa barang itu jika tidak membawa/mencarter kendaraan sendiri, tentu akan menjadi ribet terutama jika asal perempuan yang bersangkutan jauh dari wilayah Pati.

Lagi pula, barang tersebut jika sekarang dijual pun sudah tidak ada lagi nilainya sehingga ketika mucikari atau induk semangnya harus menutup pintu warung remang-remangnya, maka televisi lengkap dengan mejanya, milik salah seorang anak asuhnya pun sengaja dikeluarkan dari dalam rumah. Jika sengaja di tempatkan di emper belakang, tentu saja agar pemiliknya sewaktu-waktu datang mengambilnya juga tinggal mengambil .

Akan tetapi, sampai sekarang pesawat televisi itu belum juga diambil karena untuk memasuki kompleks LI hanya untuk mengambil barang tersebut yang bersangkutan memang tidak punya ongkos. Karena itu, sikap yang diputuskan adalah mencampakkan barang miliknya yang pernah dibeli dengan uang, seperti tercampaknya nasib kehidupan di lembah hitam Lorong Indah yang memang tidak indah ini.