Kenduri di Perempatan Jalan; Barikan yang Nyaris Dilupakan

0
123
Kenduri di jalan yang dilakukan para ibu di Desa/Kecamatan Gembong yang secara tradisi disebut ''barikan'' sekarang ini sudah lama nyaris dilupakan.(Foto:SN/dok-jol)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Kenduri atau kenduren dalam tatanan laku budaya Jawa sebenarnya masih banyak dilakukan warga di pedesaan, tapi sekarang ini karena pengaruh kondisi tatanan modernitas hal tersebut mulai banyak ditinggalkan. Salah satu contoh di antaranya, adalah kenduri di sawah berkait dengan tradisi ”wiwit” (mulai), yaitu saat petani harus memulai memanen padi hasil jerih payahnya.

Karena kondisi saat ini, para petani harus memburu produksi tanaman padinya agar bisa panen sampai tiga kali dalam satu tahun, maka sudah banyak yang melupakan tradisi kenduri untuk persahabatan dengan alam, di mana padi yang disimbolkan sebagai Dewi Sri juga butuh keramahan para petani. Karena budaya tersebut semakin tergeser oleh hal-hal pragmatis, maka urusan yang ”ribet-ribet”  seperti itu akhirnya lepas dari perhatian dan kepedulian.

Akan tetapi, ketika masyarakat terbentur pada satu kondisi pelik yang tak mampu diurainya, maka upaya menyapa kembali untuk mendapatkan keramahan alam pun dilakukan. ”Jujur saja, kami setelah dipercaya masyarakat sebagai Kepala Desa/Kecamaan Gembong, tiap malam banyak menghabiskan waktu keliling desa,” ungkap Sukardi RT dalam kesempatan berbincang dengan ”Samin News” beberapa waktu lalu.

Tujuannya apa, tanyanya lebih lanjut, meniru kebiasaan para leluhur atau para yang dituakan di desa bahwa jika malam hari yang namanya sebagai orang yang dituakan di desa, beranjak tidurnya harus paling akhir setelah semua rakyatnya pada tidur. Paling tidak sekarang ini untuk berkeliling desa di malam dari juga bukan hal yang menyusahkan, karena lampu penerangan listrik ada di sepanjang jalan, dan cukup berkendara motor juga lebih praktis.

Meniru kebiasaan baik para pendahulu, termasuk melakukan kenduri seperti ”barikan”  melakukan kenduri di pertigaan maupun perempatan jalan, bahkan baru saja dilakukan oleh kelompok ibu-ibu warga Gembong. Hal itu adalah pengulangan tradisi budaya yang di balik itu tersirat suatu harapan, bisa menjadi tolak bala agar segala bentuk penyakit yang lazim disebut ”pagebluk” seperi Covid-19  ini segera sirna.

Hanya saja, apa yang pernah menjadi bagian dari budaya masyarakat tersebut sekarang mulai luntur, sehingga jika warga masi ada yang melakukan hal tersebut tentu dipersilakan. ”Tentu  timbul pertanyaan, mengapa kenduri itu dilaksanakan di petigaan maupun perempatan jalan, karena jalan juga sebagai simbol tempat lewatnya berbagai peristiwa/kejadian,” imbuhnya.