Ikan Pancingan Mulai Masuk TPI Unit I Juwana, Bakul Tidak Pernah Mau Lelang

0
79
Ikan hasil pancingan nelayan, utamanya jenis manyung mulai memasuki Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Unit I Juwana.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Ikan hasil tangkapan kapal pemacingan, utamanya jenis manyung saat ini mulai masuk dan langsung dibeli bakul yang tiap hari mangkal di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Unit I Juwana. Ternyata, para bakul selama ini tidak bersedia membeli ikan di TPI tersebut dengan sistem lelang.

Dengan demikian, mereka praktis tidak membayar retribusi lelang meskipun tiap hari mereka ini memafaatkan fasilitas pemerintah. Padahal untuk fasilitas yang tersedia seperti lantai untuk lelang dan pelatarannya selama ini yang memanfaatkan adalah mereka sendiri, tapi yag membersihkan adalah tenaga dari TPI yang bersangkutan.

Ditanya berkait hal tersebut, Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan dan Pengembangan (P2) TPI Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, Dwi Endang Subekti, tidak mengelak dan kondisi seperti itu sudah berlangsung cukup lama, sehingga sampai saat ini pihakya masih berupaya mencari jalan pemecahannya. ”Sebab, bakul ikan yang ada di TPI ini jumlahnya sangat terbatas,” ujarnya.

Kapal pemancingan saat membongkar muatannya di dermaga tambat di TPI Unit I Juwana.
Bakul yang membeli ikan pun menimbang sendiri.

Untuk produksi ikan tangkapan kapal pancingan, lanjut dia, saat ini belum ramai utamanya tangkapan ikan jenis manyung. Akan tetapi, mulai bulan depan (September) akan cukup banyak, hanya yang menjadi masalah tetap tak berubah, yaitu para bakul pembelinya yang sangat terbatas karena semua adalah bakul setempat.

Ada di antaranya, adalah bakul yang menyimpan hasil ikan yang dibelinya ke ”coolstorage” karena jenis ikan hasil pemancingan ini bukan hanya manyung, tapi nanti pada musimnya juga ada cumi-cumi/sotong. Lagi pula, rata-rata ikan hasil tangkapan kapal pancingan masih segar, karena nelayannya tidak terlalu lama saat melaut.

Dengan demikian,  para bakul ini ada yang membanya ke Rembag dan juga Semarang sehingga untuk menjualnya kembali tidak banyak menghadapi kesulitan, karena untuk memenuhi kebutuhan lokal, yaitu para pemanggang juga cukup banyak. ”Hanya yang sulit itu bagaimana bakul tersebut mau lelang, sehingga retribusinya bukan hanya Rp 100.000 untuk satu truk, melainkan lebih dari itu bisa masuk ke kas daerah,” imbuhnya.