Menelisik Sejarah Hari Jadi Pati 1 (bersambung)

0
180
Salah satu saksi dan juga sebagai tim Penyusun Hari Jadi Pati, Ir H Haruman Anwar saat hadir dalam acara kenduren di Pendapa Kemiri, 6 Agustus 2019, sebagai rangkaian peringatan Hari Jadi Ke-696 Pati yang jatuh keesokan harinya, 7 Agustus.

SAMIN-NEWS.com, PATI Minggu besok kalender nasional sudah mencantumkan tanggal 1 bulan Agustus di Tahun 2021 yang sudah barang tentu seluruh rakyat NKRI ini tidak akan pernah meninggalkan sejarah, bahwa nanti tanggal 17 Agustus tetap akan memperingati Hari Kemerdekaan RI. Bagi warga Kabupaten Pati, tanggal 7 Agustus nanti juga akan memperingati Hari Jadi Ke-698 (7 Agustus 1323 – 7 Agustus 2021), di tengah-tengah situasi masa pandemi Covid-19.(Redaksi)

KENDATI demikian, paling tidak meskipun tanpa harus membangun suasana hingar-bingar untuk menyambut dan memperingati Hari Jadi dan Hari Kemerdekaan tersebut, karena dalam kondisi yang memprihatinkan maraknya penyebaran Covid-19, paling tidak memanjatkan doa sebagai orang yang tanpa daya, tetap patut dilakukan. Minimal, sebagai ungkapan rasa syukur bahwa Ibu Petiwi dan bumi kelahiran ”Pati” ini masih memberikan berkah dalam kehidupan hari ini dan hari-hari nanti.

Dalam kondisi gonjang-ganjing di tengah situasi pandemi seperti sekarang ini, bagi rakyat jika dirasakan memang terlalu pahit, tapi kita tidak sedang sendiri sehingga masing-masing harus saling menjaga. Selebihnya juga tetap mempunyai sisa-sisa doa untuk bumi yang sudah memberikan kehidupan kepada kita, harus tetap kita ingat perjalanan sejarahnya, termasuk bagiaman sejarah Hari Jadi Pati yang sudah disusun dan akan segera diperingati ini.

Sebagai catatan untuk menelisiknya, paling tidak hal itu berawal dari tuntutan pada masanya, di mana atau di era Tahun 1990-an, bahwa masa pemerintahan Orde Baru itu berlomba-lomba setiap daerah harus bisa meraih penghargaan yang dikenal sebagai Adipura. Yakni, penghargaan sebagai kabupaten/kota terbersih dengan syarat yang tidak ringan.

Sebab, banyak persyaratan yang harus dipenuhi selain dari upaya memaksimalkan kebersihan kota juga harus mempunyai semboyan/slogan, sehingga Pati memilih semboyan ”Pati Bumi Mina Tani”. Hal itu berlangsung pada masa pemerintahan kabupaten ini di bawah kepemimpinan Bupati Sunarji (almarhum) 1991-1996, di mana jabatan tersebut bukan dari hasil pemilihan secara langsung melainkan tunjukan.

Bupati Haryanto bersama Wakil Bupati Saiful Arifin (kanan) saat bertemu dengan salah satu personel tim Penyusun Hari Jadi Pati, Ir H Haruman Anwar, di pendapa Kemiri pada rangkaian peringatan Hari Jadi Ke-696 Pati Tahun 2019.

Tidak cukup hanya mempunyai slogan, tapi tiap daerah kabupaten/kota juga harus mempunyai sejarah tentang hari jadinya, sehingga tanpa melengkapi ketentuan dan persyaratan tersebut jangan harap bisa meraih penghargaan itu meskipun selalu ikut ambil bagian dalam kompetisi tersebut. Dengan demikian, pihak yang paling bertanggung jawab untuk menyajikan sejarah Hari Jadi Pati, adalah Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pati.

Siapa lagi yang bersangkutan, dan tak lain adalah Ir H Haruman Anwar, satu di antara Tim Penyusun yang masih ada sampai sekarang. Sedangkan yang seorang lainnya, dari unsur jajaran legislatif kala itu adalah H Sugiyono dari Fraksi Partai Demokarsi Indonesia (PDI) yang kala itu sebagai Ketua DPP dipegang oleh Soerjadi.

Adapun yang lainnya, baik dari unsur kalangan pendidikan, budayawan dan wartawan sudah almarhum dan salah seorang wartawan yang ditunjuk sebagai tim penyusun adalah Sarikoen Hadi Soepadmo. Yakni, wartawan tiga zaman yang menulis di banyak media, termasuk di Mingguan Penyebar Semangat, Joko Lodang dan juga Jaya Baya.

Setelah tim penyusun sejarah hari jadi dibentuk oleh Bupati, maka dalam sekitar satu tahun bekerja menghimpun data, mencari referensi dan kunjungan ke narasumber, akhirnya disepakati penulisan sejarah hari jadi tersebut diawali dari mana. Karena itu, jika akhirnya menghasilkan tanggal dan bulan serta tahun, di mana awal Pemerintahan Kabupaten Pati itu ada, maka sangat disayangkan kalau perjalanan sejarahnya sekarang ditinggalkan (bersambung)