Tiga Wasiat Mbah Syamsul Hadi (16)

0
126
Kiai Abu Na'im cucu menantu Mbah Syamsul Hadi, Mursyid Thoriqoh Naqsabandiyah.

SEBELUM beliau, Mbah Syamsul Hadi wafat ada tiga wasiat yang disampaikan kepada putra-putrinya. Yang pertama, untuk pondok pesantren (Ponpes) dan pengajiannya diserahkan kepada Kiai Thohir dibantu Pak Abd Wahab.

Kedua, untuk thoriqoh sementara  Pak Abd Wahab masih menjadi pegawai, maka dilaksanakan oleh Kiai Thohir, dan setelah nanti pensiun diserahkan kepada Pak Abd Wahab.

Ketiga, untuk memakmurkan masjid dikelola secara bersama-sama oleh Pak Abd Wahab, Pak Kiai Thohir, Pak Thalkah, dan Pak Nawawi, terutama untuk shalat maktubah, shalat jumat dll.

Setelah menyampaikan wasiat ini, beliau istirahat sementara putra-putri beliau pulang. Namun tak lama kemudian beliau memanggil kembali putra-putrinya, tapi yang masih berada di situ tinggal Pak Thalhah dan Salim. Khusus yang disebut terakhir adalah pembantu Mbah Syamsul, dan keduanya menghadap.

Dalam kesempatan tersebut, beliau berkenan memberikan ijazah doa panjang umur kepada keduanya. Namun sebeum keduanya hafal betul, beliau sudah pamit  dan ingin istirahat. Ijazah tersebut memang tidak boleh ditulis, hanya didengar dan dihafal saja.

Di antara keduanya yang bisa menghafal secara benar, adalah Salim. Sedangkan Pak Thalhah cepat lupa, maka satu-satunya penerima ijazah umur panjang hanyalah  Salim, pembantu beliau.

Pada malam Jumat Pahing menjelang shalat Isya’, beliau minta air wudhu, untuk shalat. Beliau dilayani oleh Salim dan Mbah Putri Kasminah, kemudian mengerjakan shalat Isya’ dengan duduk. Namun selesai shalat beliau terjatuh, dan kemudian dipapah oleh Salim untuk ditidurkan.

Akhirnya setelah tenang beliau membaca kalimat tahlil, dan tanpa diketahui secara pasti Mbah Syamsul telah menghadap kepada Allah SWT kurang lebih pada jam 20.00 WIB. Waktu itu di masjid sedang ada berjanjenan malam Jumat sekaligus Rajabiyah terhenti, dan semua melayat ke rumah Mbah Samsul Hadi. (bersambung)