Persoalan Petani Menurut Ketua Pemuda Tani HKTI Pati

0
52
Pelatihan yang diselenggarakan oleh pemuda Tani Hkti Kabupaten Pati berkolaborasi dengan Dinporapar Jateng dan Pati.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Profesi Petani merupakan profesi adi luhung yang menyediakan hasil produksinya untuk menunjang dan menjamin kebutuhan dasar manusia, yaitu kebutuhan pangan. Akan tetapi, para petani mempunyai persoalan serius yang harus dihadapi.

Ketua Pemuda Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Pati, Muhammad Sidiq mengatakan modal sumber daya alam (SDM) yang dimiliki yang tersedia di Pati seharusnya bisa dikelola dengan baik. Pasalnya, terdiri dari luas wilayah yang besar, juga terdapat laut serta lahan pertanian yang memadai.

Akan tetapi, secara garis besar Sidiq menyebut petani di Indonesia termasuk di Pati sendiri, mengalami persoalan yang sama. Petani dihimpit persoalan baik pra tanam maupun pasca panen.

“Pati itu luas, lebih besar daripada Kabupaten tetangga Kudus. Notabenenya Pati Bumi Mina Tani lebih komplit, baik itu pertanian, perkebunan, peternakan maupun perikanan itu lebih komplit. Seharusnya, modal ini bisa dimanfaatkan,” kata Sidiq kepada Samin News.

Ia menilai, petani Pati justru seharusnya lebih maksimal dalam aspek pertanian dibanding dengan Kabupaten lainnya. Pihaknya memetakan persoalan petani ada beberapa persoalan.

Ada beberapa persoalan yang dirasakan oleh petani muda HKTI, pertama adalah faktor lahan. Tanah pertanian, baik pangan maupun hortikultura itu sudah banyak terkontaminasi dari unsur sampah kimia.

“Jadi, kimianya sudah over. Misal ditanam dengan apapun, kalau tanahnya sudah tercemar kurang optimal. Ini permasalahan yang harus kita pecahkan,” ujar Sidiq.

Lebih lanjut, kata dia menangani over kimia tersebut adalah dengan cara menerapkan praktek pertanian organik sejak dini. Mulai sekarang beralih ke organik, meskipun belum seratus persen, minimal kolaborasi antara penggunaan bahan kimia dengan unsur organik.

“Persoalan kedua yaitu modal, oleh karena itu kita menjembatani utamanya permodalan. Seperti melalui fasilitasi dengan PT PNM juga pemerintah terkait, misalnya Dinporapar maupun Dispertan,” tambahnya.

Ketiga, teknologi tepat guna sekarang kan banyak sudah digunakan. Mau tidak mau sekarang sudah era teknologi, harus bisa menyesuaikan penggunaan berbasis teknologi itu. Terlebih ini bagi petani muda.

Keempat persoalan manajemen, dari mulai awal produksi hingga panen. Dan pasca panen itu sendiri ada di takeover, ini kaitannya setelah panen tetapi tidak ada yang menampung untuk pemasaran produksi pertanian itu sendiri.

Dengan demikian, pemetaan petani di Indonesia maupun di Pati paling tidak sudah tahu apa yang sedang dihadapi. Ia berharap petani muda menjadi pelopor bertani yang lebih maju.