Pemuda Tani HKTI Kabupaten Pati Selenggarakan Pelatihan Wirausaha Muda

0
43
Pelatihan yang diselenggarakan oleh pemuda Tani Hkti Kabupaten Pati berkolaborasi dengan Dinporapar Jateng dan Pati.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Pemuda Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Pati menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Kewirausahaan bagi Wirausaha Muda Pemula di Warung Makan Miber, Selasa (16/3/2021) siang tadi.

Ketua Pemuda Tani HKTI Kabupaten Pati, Muhammad Sidiq memaparkan tantangan petani masa kini adalah persoalan lahan yang sudah banyak tercampur unsur bahan kimia.

“(Kemudian) modal usaha, beralih pada penggunaan teknologi tepat guna serta manajemen pemasaran pasca panen,” kata Sidiq seusai kegiatan kepada Samin News.

Persoalan tersebut, secara universal dialami oleh petani Indonesia, termasuk petani di Kabupaten Pati. Oleh sebab itu, pihaknya mendorong agar hal ini bisa diaplikasikan oleh petani. Terlebih bagi petani muda, yang baru merambah terjun ke dunia pertanian. Untuk menjadi petani yang modern.

Pasalnya meski tidak semuanya, model pertanian yang digarap masih menggunakan cara konvensional. Misalnya dengan banyak memanfaatkan pupuk kimia maupun pestisida dengan dosis tinggi untuk memperoleh hasil maksimal.

Pelatihan yang diselenggarakan oleh pemuda Tani Hkti Kabupaten Pati berkolaborasi dengan Dinporapar Jateng dan Pati.

Sehingga, setelah mampu memetakan tantangan yang dihadapi itu, setidaknya bisa diubah sedikit demi sedikit model pertanian yang bisa menghasilkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi petani. Bukan hanya sebatas bergantung pada bahan kimia, tapi secara organik dan mampu menghasilkan kesejahteraan petani itu sendiri.

Sementara itu menurut salah satu petani muda Pati, Oval Marom bahwa profesi petani mempunyai prospek yang menjanjikan. Tinggal bagaimana cara kita memanfaatkan, tekad untuk menekuni di bidang pertanian.

“Prospek petani utamanya pemuda itu strategis ya, kita cuma butuh langkah awal bertekad menjadi petani, nanti akan ketemu jalannya,” kata Oval.

Pihaknya mencontohkan, dirinya sebagai pemuda tidak sungkan merambah pada dunia pertanian. Meski, memang diakui pada awalnya harus membutuhkan tenaga yang ekstra.

Menurutnya, persoalan usang yang dihadapi petani kontemporer adalah berkutat pada harga produk petani yang rendah. Ditambah dengan modal pupuk kimia yang tinggi, obat juga demikian. Tidak menjadi alasan untuk tidak menyukai pertanian.

“Persoalan itu, pupuk kimia mahal, pestisida yang cukup sulit sebenarnya bisa diakali dengan beralih pada model pertanian organik, langkahnya seperti itu,” jelas Oval.

Disamping itu, pihaknya optimis jika petani beralih pada model organik, akan membawa kemakmuran petani Indonesia. Selain itu, pertanian organik akan meminimalisir kerusakan tanah lantaran bahan kimia yang telah mencemari tanah.