Pemakaman Mbah Syamsul Hadi (17)

0
100
Kiai Sahlan Al-Hafidz generasi ke-4/cicit Mbah Syamsul Hadi, Mursyid Thoriqoh Naqsabandiyah.

BERITA wafatnya Mbah Syamsul Hadi cepat tesiar dari mulut ke mulut, karena pada saat itu alat komunikasi belum secanggih sekarang. Semalam suntuk berdatangan santri-santri beliau dari segenap penjuru untuk takziah. Tercatat ada tiga peristiwa yang agak janggal (nganeh-anehi) tentang kedatangan santri-santri beliau ini.

Di antaranya, (1) Santri beliau, Mbah Fathoni dari Langgednharjo, Juwana hadir pada pagi hari Jumat yang menurut dia pada malam hari dia lagi bermimpi bertemu Mbah Syamsul Hadi, dan menyuruh datang ke Kolutan pada pagi berikutnya. (2) Mbah Kiai Ahmad Fadhil Pekalongan, Winong santri kinasih beliau bahkan sebelum subuh sudah datang bersama santri-santrinya tanpa ada yang memberi kabar.

Berkait dengan ceritanya Mbah Kiai Ahmad Fadhil, pada malam Jumat itu beliau bersama para santrinya melaksanakan Rajabiyah dan berjanjenan bersama. Namun di tengah-tengah pembacaan berjanji, sepertinya Mbah Syamsul Hadi mendatanginya, dan menyuruh datang di Kolutan besok pagi.

Karena itu beliau segera menyelesaikan berjanjenan, dan bersama-sama santri beliau ke Kolutan dengan berjalan, sehingga pada waktu pagi sudah datang, Hari Jumat Pahing tanggal 27 Rajab 1378 Hijriyah, Kolutan yang terpencil di sebelah tenggara pasar Desa Sumberejo pusat Kecamatan Jaken ini menjadi hingar-bingar kedatangan para penta’ziah dari segenap penjuru.

Berkenaan dengan pemakaman beliau, maka rapat keluarga menyepakati bahwa sementara perizinan makam keluarga diurus, makam Mbah Syamsul Hadi dimakamkan di makam umum Kolutan. Karena itu proses pemakamannya juga segera dimulai.

Setelah dimandikan dan dikafani, maka para penta’ziah segera menshalati dengan bergantian rombogan jamaah. Puncaknya dishalatkan di masjid, untuk selanjutnya diusung ke makam yang jaraknya lewat jalan melingkar kurang lebih satu kilometer, dan melimpahnya para penta’ziah maka jenazah beliau seperti berjalan di atas kepala orang-orang yang berta’ziah dari masjid sampai makam.

Kurang lebih pukul 11.00, jenazah beliau dimakamkan di penjuru barat makam umum dan di sebelah selatan bekas makam dua orang pahlawan yang telah gugur sebelumnya. Sebagaimana kebiasaan yang berlaku, maka pada setiap malam sampai pada malam ke tujuh, diadakan acara tahlilan di rumah Mbah Syamsul Hadi yang selalu melimpah pesertanya, termasuk dari desa sekitar. (bersambung)