Menunaikan Ibadah Haji (8)

0
120
Madrasah Ibtida'iyah (MI) Natijatul Islam yang pada masa Mbah Syamsul Hadi bernama Madrasah Wajib Belajar (MWB) Natijatul Islam.

PERKEMBANGAN  Santri semakin bertambah besar jumlahnya, sehingga membutuhkan tambahan sarana beribadah. Karena itu Tahun 1922 Mbah Syamsul Hadi mulai membangun masjid, dan selesai kira-kira pertengahan Tahun  1923, dan setahun kemudian, yaitu 1924 beliau menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah.

Namun saat itu beliau belum bisa ziarah  ke makam Nabi Muhammad SAW di Madinah, karena pada waktu itu ada peristiwa huru-hara kaum Wahabi yang melarang ziarah ke makam Nabi. Sepulangnya dari menunaikan ibadah haji, maka nama beliau yang semula Imam Subari berganti menjadi H Syamsul Hadi.

Beberapa tahun kemudian, atau tepatnya  Tahun 1927 Mbah Syamsul Hadi kembali menunaikan ibadah haji untuk kali yang kedua, hal itu sekaligus menyempurnakan dengan ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW di Madinah, Bersama beliau saat itu Haji Fathurrohman Bandengan Juwana (yang nantinya menjadi besan) dengan mengambil putra beliau Abdul Wahab sebagai menantu dari Haji  Bakri Sambilawang, Trangkil.

Pada ziarah yang kedua ini beliau berguru ilmu thoriqoh di Jabal Qubais Makkah kepada Kiai Sulaiman  Zuhdi selama muqim di Makkah, kurang lebih dua bulan lamanya. Sekembalinya dari ibadah haji beliau menambah ilmu thoriqoh lagi dengan berguru kepada Kiai Abdul Rohman Kalipucang Jepara.

Sesuai dengan dawuh serta doa restu para kiai thoriqoh, Mbah Syamsul Hadi mulai membuka pengajian thoriqoh kepada para santri beliau. Harapannya tak lain agar mereka mengetahui secara mendalam tentang ilmu thoriqoh, hakikat dan ma’ripat kepada Allah SWT. (bersambung).