Mengais Bulir Padi Terendam Banjir yang Tak Laku Dijual

0
38
Kondisi pascabanjir di Desa Ngastorejo dan Karangrowo, Kecamatan Jakenan, Pati.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Datangnya banjir beberapa waktu lalu akibat meluapnya alur Kali Juwana, dalam bersamaan tanaman padi para petani di wilayah genangan itu tengah bernas maksimal. Sehingga dalam waktu 15 hari jika banjir tidak terjadi rata-rata mereka sudah memanen tanaman padi hasil jerih payahnya.

Karena itu, pascabencana tersebut warga di bekas lokasi genangan, seperti di Desa Ngastorejo dan Karangrowo, Kecamatan Jakenan, mereka tinggal mengais sisa-sisa bulir padi yang belum bernas sacara maksimal. Yakni, hamparan tanaman padi di sawah yang terendam air dipungut untuk dibawa pulang, serta dijemur di sepanjang jalan poros desa.

Karena itu, kata beberapa warga setempat, sedikit beruntung meningat akses ruas jalan di kedua desa tersebut sudah diperkuat dengan rigid beton. ”Hanya saja, dari hasil jerih payah ini, misalnya mendapatkan gabah juga tak laku dijual, karena memang isi didalamnya belum penuh seperti kalau panen pada dalam kondisi normal,” ujar saah seorang ibu yang tengah menjemur gabah yang berhasil dirontokkan.

Menjemur gabah yang dipanen dari genangan banjir, maka warga memanfaatkan akses jalan sebagai pilihan.

Akan tetapi, lanjutnya, hasil jerih payah seperti ini juga tidak laku terjual atau sama sekali tidak ada bakul yang membeli. Karena itu, upaya berikutnya jika gabah tersebut sudah kering  dikemas dalam karung plastik, kemudian disimpan dan bila sewaktu-waktu memerlukan untuk dimasak sendiri dibawa ke tempat penggilingan atau menunggu jasa penggilingan yang lewat.

Jika berhasil digiling jadi beras, maka warna berasnya juga tidak menarik utuk dijual sehingga satu-satunya dimasak untuk memenuhi kebutuhan makan sendiri. Akan tetapi nasinya juga sudah pasti tidak menarik, dan hanya karena sayang untuk membuang bahan makanan, tentu hal itu jangan sampai terjadi karena pamali.

Menjawab pertanyaan, yang bersangkutan menambahkan, sampai saat ini belum terpikir kembali ke sawah untuk menanam padi, karena untuk keperluan itu tentu membutuhkan biaya. ”Lagi pula air yang  menggenangi areal persawahan juga masih tinggi di sini,” tandasnya.