Akhir Hayat Mbah Syamsul Hadi (15)

0
194
Pondok pesantren (Ponpes) Tahfidz & Kajian Ilmu Al-Quran milik cicit Mbah Syamsul Hadi, (KH Sahlan Ridwan Al-Hafidz).

TAHUN 1959 atau awal bulan Rajab 1378 Hijriyah Mbah Syamsul Hadi merasa kurang enak badan, karena terasa panas dan kepala pusing. Namun kali ini oleh beliau dirasakan semakin berat, meskipun sudah didatangkan manteri poliklinik dari Juwana yang biasa memeriksa kesehatannya, yaitu Pak Mantri Ngarso untuk memeriksa dan mengobatinya.

Seminggu sebelum wafat, beliau memanggil putra sulungnya Pak Abdul  Wahab, dan menanyakan apakah tanah belakang sudah diizinkan untuk makam keluarga. Sebab, hal itu sudah sejak lama diperintahkan untuk memproses periziannya, juga menanyakan kapan dia akan mengkhitankan kedua putranya (Moh Asnawi dan Moh Thoha.

Oleh Abdul Wahab dijawab, bahwa perizinan itu belum diproses karena kesepakatan keluarga jangan dulu, seolah-olah mengharap wafat beliau. Sedangkan untuk mengkhitankan putranya, akan dilaksanakan besok setelah panen sekitar bulan Dzulhijjah 1378.

Mbah Syamsul Hadi pun berpesan, dan ternyata merupakan wasiat beliau dengan lebih tegas, bahwa proses harus segera dilaksanakan, dan untuk khitan dua putranya harus besok Syawal 1378 Hijriyah.  Dengan pesan dan wasiat tersebut Pak Abdul Wahab dan Pak Tholhah, menjadi bingung dan gusar tapi bersepakat untuk memprosesnya jika benar-benar beliau sudah wafat saja.

Menjelang wafat Mbah Syamsul Hadi, Pak Abdul Wahab sakit infeksi (udun) di tangan kanan, dan dia sendiri tidak bisa secara terus menerus untuk menunggui Mbah Syamsul. Sedangkan  sakit beliau semakin berat, sehingga hari Kamis sore ba’dal Ashar atau Jumat petang tanggal 27 Rajab 1378 Hijriyah, beliau memanggil putra-putranya.

Kepada mereka beliu menyampaikan pesan tentang kelanjutan pengembangan agama Islam, terutama tentang pondok pesantren dan thoriqohnya. Selain itu juga permasalahan keluarga yang juga perlu diselesaikan. (bersambung)