Panen Padi Sisa Rendaman Banjir dengan Bagi Hasil

0
117
Beberapa petani di Dukuh Gilis, Desa Sugiharjo, Kecamatan Pati, memanen tanaman padi dari sisa-sisa yang terendam banjir.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Setelah lebih dari dua pekanan tanaman padi petani terendam bajir, maka sudah ada yang memulai memanen bulir-bulir padi tersebut, ketimbang hanya dibiarkan membusuk. Lagi pula hal itu adalah bagian dari pangan yang tidak boleh dibiarkan terbuang, karena bagi para petani hal itu merupakan pemali yang harus dihindari.

Kendati hanya bagian dari sisa-sisa genangan banjir, tapi itulah bagian dari pemberian-Nya yang harus dengan ikhlas diterima. Apalagi, banjir adalah dari peristiwa alam yang harus dengan ikhlas diterima, karena sampai sekarang belum ada upaya maksimal untuk memutus mata rantai rantai penyebabnya, yaitu pendamgkalan dan penyempitan alur Kali Juwana.

Terlepas dari hal itu, tutur para sejumlah petani, warga Dukuh Gilis, Desa Sugiharjo, Kecamatan Pati memaparkan, jika tidak terjadi banjir akibat meluapnya alur Kali Juwana, tinggal sekitar 10 atau 15 hari tanaman padi milik warga setempat rata-rata sudah bisa dipanen. ”Dengan demikian, hasil panenannya berupa  gabah kering panen juga bisa maksimal,”ujar salah seorang petani di Dukuh Gilis, Munarto (60), tahun ketika dijumpai di lokasi sekitar sawahnya, Jumat (19/2) siang tadi.

Tumpukan bulir padi yang sudah beberapa hari terendam banjir saat dipanen, tentu hasilnya tidak maksimal, dan bahkan sudah mulai membusuk.

Untuk memanen bulir padi yang mulai membusuk karena terendam banjir ini, lanjutnya, juga tidak bisa asal diambil/dipanen, tapi harus ada pihak lain yang dilibatkan karena harus mengambil padi dari areal sawah yang tergenang. Dengan demikian, dia harus melibatkan pihak lain yang mau bekerja sama, tapi syaratnya harus bagi hasil.

Misalnya, jika nanti bulir padi tersebut sudah selesai dirontokan menjadi gabah, maka hasilnya pun dibagi dua dengan pekerja yang melaksanakan pekerjaan tersebut. Semisal, bulir-bulir padi yag terendam tentu masih bisa menghasilkan beras jika digiling, tapi jika masih belum beras penuh, maka hasilnya adalah menir.

Kendati mengalami kerugian dari areal sawahnya seluas dua kotak, tapi baik dia maupun petani lainnya tentu tidak akan pernah jera. ”Sebab, bercocok tanam sebagai petani hal seperti itu adalah biasa, sehingga gagal panen akibat banjir maupun akibat serangan hama memang sering dialami,”imbuhnya.