Di Lokasi Genangan Banjir Banyak Bantuan Nasi Bungkus yang Tidak Dimakan

0
97
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kabupaten Pati, Riyoso saat bersama personel jajarannya turun langsung ke Desa Kosekan, Kecamatan Gabus untuk menyerahkan bantuan kepada warga terdampak banjir beberapa waktu lalu.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Sejumlah pihak mencermati penyaluran bantuan warga yang terdampak banjir, khususnya di tujuh kecamatan minus di wilayah Kecamatan Dukuhseti yang tidak tepat sasaran. Utamanya bantuan material berupa nasi bungkus yang benar-benar teralokasikan sangat berlebihan dari para relawan yang tidak mengenal lelah menyalurkannya langsung ke tujuan.

Akan tetapi, khusus bantuan tersebut dan juga mie instan justru banyak yang tidak dinikmati saat warga terdampak banjir ini membutuhkan. Bahkan yang terjadi, bantuan jenis itu tidak menarik karena barang kali tidak menarik jika tiap hari dari pagi sampai malam menikmati nasi bungkus maupun memasak mie instan.

Apalagi, papar Andi R, salah seorang yang mencermati kondisi tersebut di sejumlah wilayah yang tergenang banjir, dalam kondisi berhari-hari tinggal maupun berdiam dalam rumah yang terkepung air, tentu banyak warga terutama ibu-ibu dan anak yang tertekan. ”Dengan demikian, utuk keperluan makan dengan nasi bungkus maupun mie rebus dan mie goreng tentu membosanan, sehingga akhirnya kehilangan selera makan,”ujarnya.

Hanya saja, lanjutnya, bahwa untuk bantuan yang dikirim langsung ke lokasi oleh para relawan maupun dermawan, benar-benar luar biasa kepeduliannya. Bahkan, jika dihitung menggunakan hitungan nominal tentu bukan jumlah yang kecil, meskipun sekadar nasi bungkus tapi untuk pengadaannya tetap mempunyai nominal tidak kurang dari Rp 5.000/bungkusnya.

Bantuan itu akhirnya tersalurkan tidak tepat sasaran, karena tidak ada pihak yang bertindak sebagai pengarah dan pengendali. Seharusnya hal itu menjadi tugas pihak berkompeten di jajaran pemerintahan, untuk mengatur pendistribusiannya agar penyalurannya di satu lokasi tidak terjadi penumpukan, maka harus ada yang mengendalikan.

Suatu misal, jika pagi hari sudah ada yang mengalokasikan batuan nasi bungkus di desa A, maka relawan yang lain harus diarahkan oleh pengendali agar jangan mengirim bantuan yang sama ke desa A, tapi ganti ke desa B. Demikian pula seterusnya ke desa C oleh relawan peduli banjir lainnya, dan pada siang serta sore hari juga seperti pengendali harus selalu mengarahkan ke mana bantuan nasi bungkus disalurakan.

Tidak berbeda dengan penyaluran paket bantuan lainnya, seperti sembako juga harus diarahkan oleh pihak pengendali ke mana saja sasarannya, agar terjadi pemerataan dan tidak terjadi penunpukan di satu atau dua tempat. ”Untuk mengatur pengendalian penyaluran memang dibutuhkan koordinator yang  mengarahkan ke mana bantuan itu disalurkan, dan hal itu tidak sulit karena sudah ditopang alat komunikasi yang maksimal,”imbuhnya.