Efektifkah Cegah Virus dengan Mencuci Tangan Memakai Sabun?

0
46

Mencuci tangan di era pandemic tahun ini bukan hanya usaha untuk menjaga kebersihan namun juga diklaim dapat mencegah penyebaran virus Covid-19. Apakah mencuci tangan yang baik harus menggunakan sabun? Apakah sabun antiseptic lebih baik dari pada sabun biasa? Haruskah mencuci tangan selama 20 detik? Pertanyaan tersebut akan dijawab melalui penjelasan sebagai berikut.

Tangan adalah bagian anggota tubuh yang rentan terhadap penyebaran virus, seperti contoh ketika kita berada di luar rumah setelah memegang banyak benda tanpa sadar juga kita memegang hidung, mata atau mulut sendiri. Dengan begitu, jika terdapat kuman atau bakteri yang menempel di tangan, juga akan terhirup. Dan apabila sedang sakit , ketika batuk sebaiknya gunakan tisu untuk menutup mulut ketika batuk maupun bersin.

Menurut Centers for Disease Control and Preventation (CDC), mencuci tangan menggunakan sabun dan air merupakan cara yang paling baik dalam mencuci tangan. Meskipun begitu, mencuci tangan dengan sabun juga memiliki kekurangan. Berikut adalah pro dan kontra menggunakan sabun dan hand sanitizer saat mencuci tangan.

Dr. David Hooper, seorang kepala Infection Unit di Massachusetts General Hospital, mengatakan bahwa sanitizer mudah dan cepat digunakan. Penelitian juga menunjukkan bahwa ia memiliki aktivitas antibakteri yang lebih cepat dibandingkan dengan sabun dan air. Carol McLay, RN, seorang Konsultan Pencegahan Infeksi di Lexington, Ky, mengatakan bahwa mencuci tangan dengan sabun merupakan hal yang paling efektif dalam mencegah penyebaran penyakit. Meskipun sanitizer dapat mengurangi jumlah bakteri dengan cepat di tangan Anda, namun mereka tidak dapat menghilangkan semua jenis kuman.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan untuk rajin mencuci tangan setidaknya selama 20 detik. Sebuah foto yang beredar di Reddit menunjukkan terdapat perbandingan apabila seseorang mencuci tangan menggunakan sabun atau tidak dan mencuci tangan selama beberapa waktu. Terlihat penampakan tangan yang bercahaya yang merupakan adalah tangan yang terkena kuman dan bakteri, dan tangan yang tampak bersih setelah mencuci tangan.

Foto yang kedua menunjukkan hasil dari membilas tangan dengan air secara terburu-buru. Tampak jelas bahwa hanya sedikit bagian yang bersih oleh kuman dan bakteri.

Foto ketiga menampilkan hasil dari mencuci tangan tanpa sabun selama 6 detik. Hasilnya adalah sedikit bagian dari tangan tampak bersih tapi sebagian masih kotor.

Foto keempat memperlihatkan hasil dari mencuci tangan dengan sabun selama enam detik. Ini merupakan waktu rata-rata seseorang yang mencuci tangan secara buru-buru. Hasilnya adalah tangan terlihat bersih tapi beberapa bagian tangan masih kotor dan berselimut bakteri/kuman.

Foto kelima menunjukkan hasil dari mencuci tangan dengan sabun selama 15 detik. Hasilnya adalah tangan sudah cukup bersih, tapi sela-sela tangan masih penuh kotor.

Foto yang terakhir memaparkan hasil dari mencuci tangan selama 30 detik dengan sabun. Tampak jelas bahwa tangan terlihat bersih hingga ke sela-sela jari. Bagian kuku masih terlihat bercahaya karena bagian tangan tersebut tertutup lapisan kuku.

Nah, apakah mencuci tangan dengan antiseptic lebih baik dari sabun biasa ? Sabun antibakteri untuk mandi atau cuci tangan yang dijual di pasaran biasanya mengandung triclosan (0,1–0,45%) atau triclocarbon. Sabun ini dipercaya lebih ampuh untuk mengusir bakteri dan virus yang menempel di kulit ketimbang sabun biasa.

Kandungan triclosan dalam sabun antibakteri cenderung membuat kulit tangan kering dan rentan terkena dermatitis kontak iritan atau alergi. Ditambah lagi, para ahli menduga bahwa penggunaan sabun antibakteri dalam jangka panjang bisa menyebabkan bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik.

Ternyata, sabun antibakteri dan sabun biasa sama ampuhnya dalam menghilangkan bakteri dan virus dari tangan. Malahan, sabun biasa lebih jarang menimbulkan efek samping pada kulit dibandingkan sabun antibakteri. Mari kita saling menjaga dengan selalu mencuci tangan sebagai wujud kebersihan diri dan penjagaan diri dan orang lain.

Pengirim : Fajar Pangesti (Mahasiswa IPMAFA Prodi Pengembangan Masyarakat Islam)