Tidak Bisa Mendapat Gelontoran Air Maksimal; Petani Jaken Coba Menanam Gora

0
91
Ketua Kelompok Tani ''Tani Maju'' Desa Sumberejo, Kecamatan Jaken, Drs Maksum, harus mencari unhtuk bisa menanam padi gogo rancah (Gora).
Kondisi saluran skuneder dari Bendung Widodaren, di Desa Sumberejo, Kecamatan Jaken yang sampai saat ini masih kering kerontang.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Sadar akan kondisi alam di lingkungannya yang tidak bisa mendapatkan gelontoran air secara maksimal, maka para petani di wilayah Kecamatan Jaken, harus mencari terobosan lain. Yakni, kendati hujan belum turun maksimal dan lahan sawah mereka masih kering kecuali mengandalkan turunnya hujan, mereka banyak yang sudah harus mulai menanam padi di lahan kering miliknya.

Tanaman padi yang dipilih, tentu bukan tanaman padi yang harus ditanam di lahan persawahan yang mendapat banyak mendapat gelontoran air, utamanya dari bendung yang masih berfungsi. Bagi nyang bendung air seperti Widodaren yang kondisinya saat ini memprihatinkan, maka harus dilakukan upaya menanam padi dengan cara lain.

Pilihan para petani di wilayah ini, papar Ketua Kelompok Tani ”Tani Maju” Desa Sumberejo, Kecamatan Jaken, Maksum, adalah menanam padi gogo rancah (gora). ”Tanaman padi ini memang untuk pertumbuhannya harus menunggu banyaknya air, melainkan pada  lahan yang tak berair pun tetap bisa tumbuh, sehingga sekarang para petani pun sudah bisa memulai menanam padi pada musim tanam (MT) pertama ini,”ujarnya.

Lahan tanaman padi gogo rancah (Gora) yang kini mulai tumbuh meskipun tidak mendaoatkan suplai air lahan persawahan tersebut.

Dengan demikian, lanjutnya, pada saat lahan masih dalam musim kemarau, terlebih dahulu sudah diolah, termasuk upaya membersihkan rumputnya. Sehingga banyak lahan yang benar-benar bersih tapi belum ditanami, karena menunggu jika ada atau hujan mulai turun barang kali satu atau dua kali sehingga lahan tersebut menjadi sedikit lebih basah, atau terlalu keras.

Jika sudah dalam kondisi demikian, maka para petani biasanya akan kembali ramai-ramai turun ke sawah, untuk mulai menanam padi gogo dengan sistem tugal. ”Yakni, butiran benih padi dimasukkan ke dalam lubang tugal kemudian ditutup, dan bila nanti ada turun hujan satu atau dua kali pasti mulai tumbuh mebentuk rumpun-rumpun,”tandasnya.

Diminta tanggapannya secara terpisah berkait tidak maksimalnya fungsi Bendung Widodaren, Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR), H Darno menegaskan, pihaknya tidak punya kewenangan untuk menata bendung itu. ”Sebab, kewenangan sepenuhnya ada pada pihak Balai Sumber Daya Air (BSDA) Seluna di Kudus,”imbuhnya.