Dua Hari Lagi Genap Empat Bulan Tim Pemakaman BPBD Menjelajahi Kuburan

0
50
Dengan kelelahan yang tak bisa dihidari setelah memakamamkan beberapa jenazah dengan standar protokol Covid-19, maka sambil duduk di kendaraan salah seorang anggota tim pun bisa tertidur.(atas). Sedangkan makan nasi kenduri di kuburan bagi mereka, akhirnya menjadi hal terbiasa.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Terlalu banyaknya tugas yang harus dilaksanakan untuk memakamkan jenazah dengan standar protokol Covid-19, maka anggota tim pemakaman yang bersangkutan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati, baru menyadari bahwa tak terasa dua hari lagi, atau tepatnya Sabtu (15/11) nanti sudah empat bulan menjelajahi kuburan di desa-desa maupun kota di Kabupeten Pati.  Sedikitanya sampai saat ini sudah lebih dari 200 jenazah yang harus dimakamkan dengan standar protokol tersebut.

Sebab, mulai tanggal 15 Juli 2020 itulah tim relawan yang dibentuk oleh BPBD mulai bertugas, karena sebelumnya tugas itu dilaksanakan oleh pihak jajaran kepolisian. Sehingga saat itu, salah satu jenazah yang harus dimakamkan dengan standar Covid-19 oleh personel yang bersangkutan berdasarkan catatan ”Samin News” (SN) adalah pemakaman di makam khusus yang disiapkan oleh Pemerintah Daerah (Pemkab) Pati, yatu di kawasan Tempat Pembuanagan Akhir (TPA) sampah, di Desa Sukoharjo, Kecamatan Margorejo.

Saat ini, jenazah seorang perempuan asal Sumatra arus dimakamkan secara khusus di tempat itu, karena  saat berkunjung ke Pati tidak menemukan lagi bekas anggota keluarganya. ”Selesai itu memasuki pertengahan bulan Juli, dan ganti tim relawan dari BPBD yang bertugas melaksanakan pemakaman hingga sekarang,”ujar salah seorang di antara mereka yang akrab disapa Purnama.

Dengan kelelahan yang tak bisa dihidari setelah memakamamkan beberapa jenazah dengan standar protokol Covid-19, maka sambil duduk di kendaraan salah seorang anggota tim pun bisa tertidur.(atas). Sedangkan makan nasi kenduri di kuburan bagi mereka, akhirnya menjadi hal terbiasa.

Untuk jumah seluruh relawan, lanjutnya tidak kurang dari 25 orang, termasuk mereka yang khusus berrtugas di wilayah Pati utara, bergabung dalam relawan Tunggulwulung. Tugasnya memang khusus di wiayah tersebut, tapi kalau wilayah tengah dan seletan kekurangan personel, kelompok relawan ini juga siap didatangkan.

Apalagi, prinsipnya, dalam melaksankan tugas seperti ini yang kadang-kadang tidak melihat waktu, kata kuncinya adalah saling membantu, saling bahu membahu antara satu dan satunya. Apalagi, mereka juga sama sekali tidak tahu sampai kapan kondisi tersebut akan berakhir, sehingga maka sampai sekarang dalam bertugas tidak ada istilah mengharap bekas kasihan maupun pujian dari pihak-pihak yang memang menaruh simpati.

Sebab, di balik semua itu pihak-pihak yang memcemooh dan mencela mereka dengan dasar alasan dan pemahaman yang tudak jelas pun banyak jumlahnya. ”Atas dasar itulah apa yang b sa kami kerjakan dalam tugas ini tetap harus mebjadi bagian utama yang tudak bisa ditinggalkan, yaitu pemakaman dan pemakaman standar protokol Civid-19, sehingga kami bersama teman-teman ini tak ubahnya sebagai penjelajah kuburan,”selororoh Purnama.