Makanan Olahan Ikan Dalam Kaleng ”Mbledug” dan Berbau Busuk

0
235
Sesorang pemerhati dari kajian unsur kimia, Hermain ST.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Berkait merebaknya berita makanan olahan ikan bandeng presto dalam kaleng yang sampai siang tadi masuk ke meja  Redaksi ”Samin News” (SN), di antaranya adalah dari wilayah Kecamatan Jaken. Yakni, salah satu Kelompok Penerima Manfaat (KPM) atas penyaluran Bantuan Sosial Nontunai (BSNT), semalam (tadi malam Red) ketika membuka segel kemasan kaleng tersebut, langsung muntah karena menghirup bau busuk cukup menyengat.

Sedangkan yang lain, terpaksa ada yang membuang kaleng berisi makanan olahan itu karena kaleng kemasannya sudah dalam kondisi tidak bersih lagi. Adapun lainnya, berita berasal dari wilayah Kecamatan Kayen, bahwa sedikitnya ada tiga KPM terpisah, mendapati kaleng kemasan makanan olahan ikan bandeng presto itu ”mbledug.”

Ketika hal tersebut dimintakan tanggapan kepada salah seorang pemerhati dari sisi kajian unsur kimia, Hermain ST mencoba menganalisisnya berdasarkan kondisi bahan-bahan organik . Di antaranya karena faktor tidak bersih akibat  persinggungan  dari luar atau dari dalam, tapi jika bahan organiknya itu berasal dari ikan bendeng presto seharusnya tidak lagi mengandung lagi bakteri (H2O dan CO2).

Sebab, untuk membuat bahan organik itu dalam bentuk presto, barang tentu sudah melalui penggunaan panas bertemperatur tinggi. ”Dengan demikian, jika di dalamnya mengandung bakteri tapi dengan suhu panas cukup tinggi, maka bakteri tersebut sudah mati sehingga saat diproses lagi dalam pengalengan sebenarnya sudah aman,”ujarnya.

Karena itu, lanjutnya, besar kemungkinan karena pengaruh dari luar, yaitu justru saat berlangsung proses pengalengannya. Akan tetapi disi lain, hal itu juga karena faktor ketentuan penggunaan batas akhir menjelang atau sudah terlewati, dan biasanya dalam kemasan kaleng tersebut tercantum kode produksi, mengingat meskipun di dalam kaleng bahan-bahan organik  pada tahap awal adalah munculnya permentasi (pengasaman) atau membuat isi dalam kemasan menjadi asam.

Adapun proses akhir dari kondisi itu, adalah metanasi  atau metan (CH4) yang memproduksi gas, dan gas tersebut akan menguap dengan adanya tekanan udara. Sehingga isi kaleng itu bila ditempatkan dalam ruang terbuka pun setiap saat bisa ”mbledug” dengan mengeluarkan bau busuk yang biasanya cukup menyengat, sehingga orang yang menghirupnya akan muntah, atau hal sama terjadi ketika kaleng kemasan tersebut dibuka.

Berkait terjadinya bau busuk itu, karena bahan organik terutamanya ikan tersebut kandungan sulfurnya (H2S) cukup besar, dan unsur kimia itulah mengapa kotoran dalam perut ikan justru penghasil bau busuk. Sehingga jika metan dan H2S dalam kaleng memang sudah rusak, maka menguapnya gas metan berbau busuk itu pun tak bisa dihindari.

Berbeda dengan kandungan sulfur pada kotoran hewan yang makanan dasarnya adalah rumput atau bukan bahan-bahan organik, maka sangat rendah, meskipun kotorannya berbau tapi tidak busuk menyengat. ”Berbeda dengan kotoran manusia kandungan sulfurnya juga cukup tinggi, karena yang dimakan di antaranya adalah ikan dan daging yang proteinnya tinggi, maka kotorannya pun menimbulkan bau tak sedap,”tandas Hermain.