11 Hari Belum Surut, Warga Bumirejo Juwana Mengungsi

0

SAMIN-NEWS.com, PATI – Banjir masih menggenangi di sejumlah wilayah Kabupaten Pati. Salah satu yang cukup parah adalah di Desa Bumirejo, Kecamatan Juwana. Sudah lebih dari sepuluh hari banjir belum juga surut.

Kepala desa Bumirejo, Sutrisno mengungkapkan banjir limpasan dari Sungai Silugonggo itu tingginya mencapai 80 centimeter atau di atas lutut kaki orang dewasa. Banjir ini menyebabkan sejumlah warganya mengungsi ke tempat yang aman.

“Untuk kondisi banjir saat ini di Desa Bumirejo tinggi airnya kurang lebih antara 50 – 80 cm. Sementara pengungsinya itu jumlahnya untuk di balaidesa ada 7 KK, di madrasah kurang lebih ada 23 KK,” kata Sutrisno saat menerima bantuan sembako dari fraksi PPP Pati, Rabu (11/1/2023).

Selain mengungsi ke balaidesa dan madrasah setempat, warganya juga mengungsi ke rumah keluarganya masing-masing yang aman dari banjir. Adapun jumlah pengungsi di keluraganya itu sekitar 25 KK.

Selanjutnya, masih kata dia ada beberapa warganya yang mengungsi di Rusunawa, hanya saja pastinya dia tidak hafal. Sedangkan Sutrisno menyebut warganya secara keseluruhan yang mengungsi kurang lebih terdapat 100 KK.

Dirinya menjelaskan banjir terjadi sejak tanggal 1 Januari. Sedari awal ketinggian sempat surut, namun demikian saat ini pasang lagi. Meski belum surut total, namun sempat berkurang.

Ketinggin air sempat surut, dan ini naik lagi. Ketinggian air kemarin sekitar 50 centimeter sempat surut jadi 30 centimeter, kemudian naik lagi ini sekarang 80 cm,” ungkap Sutrisno.

Pihaknya menyebut sejauh ini bantuan pokok untuk warganya sehari-hari tidak ada persoalan. Namun, ia menegaskan bahwa yang dirasakan adalah yang menjadi kendala yaitu pendistribusian bantuan untuk warganya karena harus menerjang genangan banjir.

Menurutnya, perahu karet juga cukup penting untuk mendistribusikan bantuan. Ia mengaku telah meminta BPBD Kabupaten Pati, namun ternyata belum ada barang yang diminta.

“Bantuan tidak ada kendala, yang menjadi kendala itu dalam proses pendistribusian karena jalan kaki. Dulu ada perahu karet, tetapi sekarang tidak ada. Saya sudah mengajukan ke BPBD tetapi terkait perahu karet itu sudah habis,” tandasnya.