Tercatat 232 Kasus HIV/AIDS di Pati Sepanjang 2022

0
Kabag Kesra Setda Pati, Sudarto
Kabag Kesra Setda Pati, Sudarto

SAMIN-NEWS.com, PATI – Sebanyak 232 kasus HIV/AIDS tercatat sepanjang periode Januari – Oktober 2022 di Kabupaten Pati. Dari sebagiannya meninggal dunia. Hal ini diketahui saat peringatan Hari AIDS se-Dunia di pendopo setempat, Kamis (1/12/2022).

Kabag Kesra Setda Pati, Sudarto dalam sambutannya mengatakan mulai tahun 1996 hingga Oktober 2022 kasus HIV-AIDS di Pati sebanyak 2.228 orang. Kemudian yang meninggal dunia 425 orang. Sementara data yang sama bahwa khusus di tahun 2022 sampai bulan Oktober ini sebanyak 232 orang dan meninggal 61 orang.

“Kasus HIV ditemukan di 21 kecamatan tersebar di 291 desa. Itu ditemukan pada pekerja seks, masyarakat antara lain anak-anak, pelajar/mahasiswa, pasangan calon pengantin, ibu hamil, ibu rumah tangga, kepala rumah tangga, wiraswasta hingga usia lanjut,” ujarnya.

Pelaksanaan konseling dan Tes HIV dengan tujuan untuk upaya deteksi di masyarakat sudah dilakukan oleh puskesmas dan Rumah Sakit yang didukung KPA Pati, DKK, Pemdes, camat, Warga Peduli Aids (WPA), LSM SSR Fatayat NU dan Yayasan Sokoguru.

Dia melanjutkan untuk mendukung penanggulangan HIV-AIDS di Pati, Pemkab memfasilitasi dengan membentuk WPA melalui SK Kepala Desa di Desa Bakaran Wetan Kecamatan Juwana dan Mojoagung Kecamatan Trangkil. Dua desa itu kepengurusan kelompok WPA sudah dikukuhkan beserta menggelar kegiatan konseling dan tes hiv.

Dalam kesempatan peringatan itu, guna mendukung penanggulangan HIV pada peringatan Hari Aids se-Dunia, Baznas memberikan bantuan 100 paket sembako untuk terus memberikan semangat motivasi pada kelompok pendamping, ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS), pengurus WPA.

Sementara itu, Pj Bupati Pati yang diwakili staf ahli Bidang Pembangunan Masyarakat dan SDM, Sutikno menyampaikan kegiatan ini diperingati tujuannya adalah memperkuat kolaborasi semua pihak yang mana diharapkan tidak ada lagi kematian akibat AIDS dan kematian ODHA (Orang dengan HIV-AIDS).

Menurut dia, pada intinya masyarakat merasa malu menderita HIV-AIDS. Sehingga yang perlu ditekankan adalah yaitu dengan melakukan pencegahan. Sebab lelbih baik daripada penanggulangan atau secara kuratif.

Dapat menentukan komitmen penanggulangan HIV-AIDS. Kayak fenomena gunung es karena malu. Jumlahnya bisa saja lebih dari itu. Maka masyarakat tidak boleh judge (menghakimi). Keberhasilan penanganan ini adalah kolaborasi baik pemerintah, profesi, toga, dan unsur lainnya,” ujarnya.