Respon Kepala Unit Keamanan Satintelkam Polres Kudus Soal Radikalisme Jelang 2024

0
39

SAMIN-NEWS.com, KUDUS – Pemilu yang kurang lebih diadakan dua tahun lagi, terindikasi sudah mulai dimanfaatkan oleh oknum politisi yang ingin merubah Ideologi Pancasila sebagai alat politik identitas untuk mendapatkan dukungan di tahun 2024. Hal tersebut tentunya jika dibiarkan maka akan membahayakan bagi keberlangsungan kesatuan dan persatuan Bangsa Indonesia.

Di Indonesia sendiri, definisi radikalisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai paham atau aliran yang dibuat oleh sekelompok orang yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial politik dengan cara kekerasan atau drastis, serta memiliki sikap ekstrem dalam aliran politik.

Terkait itu, Kepala Unit Keamanan Satintelkam Polres Kudus menuturkan banyak oknum masyarakat yang berideologi berbeda dengan Pancasila lalu ingin merubahnya. “Hasil riset Saeful Mujani tahun 2017 menunjukkan angka 9,2% ingin mengganti ideologi pancasila dari 261.9 juta warga di Indonesia,” katanya.

Mereka kemudian memanfaatkan media online dan medsos sebagai sarana propagandanya sehingga kemudian jumlah mereka naik menjadi 19.5% dari 268,1 juta warga di Indonesia, yang pada sebelumnya hanya 9.2%. “Tentunya hal tersebut harus diperhatikan secara bersama. Kalau hal tersebut dibiarkan, maka akan banyak yang anti Pancasila dan ingin menggantinya,” ucapnya.

Dirinya juga bercerita ada dua remaja yang masih muda di kecamatan berbeda yang pernah terkena doktrin radikalisme. Doktrin tersebut berasal dari sosial media. “Dua pemuda tersebut merupakan korban doktrin yang terpengaruh melalui sosmed dengan iming semangat persaudaraan. Yakni dengan menggunakan doktrin ‘sesama Islam disana tertindas sehingga kita harus membantu’,” ungkapnya.

Lanjut dia, ditambah menjelang 2024 pastinya penyebaran paham radikalisme akan semakin massif dikembangkan melalui media tersebut. Karena di zaman sekarang doktrin paling efektif adalah melalui propaganda handphone atau sosial media.

Ia juga menyarankan untuk warga Indonesia yang baik dan berpedoman pada Pancasila, maka harus berani melawan. “Untuk melawannya melalui sosial media dan harus berani berisik, agar netizen lainnya melihat komunikasi dua arah dan bisa membedakan mana yang benar dan salah.

Dirinya berpesan untuk terus selalu bersuara dan jangan diam terkait hal tersebut. Serta untuk menambah literasi pengetahuan, harus belajar menguasai sosial media hal tersebut berguna agar tidak terpengaruh oleh paham radikalisme.

Penulis
Adam Naufaldo