Jalan Tanah Sisi Barat Kolam Tambat Kapal Bodhol

0
53
Kondisi jalan tanah sisi barat dermaga kolam tambat kapal di kawasan Pulau Seprapat, Juwana karena dilewati ''dump truck'' pengangkut selesai diguyur hujan.(Foto:SN/dok-liq)
Kondisi jalan tanah sisi barat dermaga kolam tambat kapal di kawasan Pulau Seprapat, Juwana karena dilewati ”dump truck” pengangkut selesai diguyur hujan.(Foto:SN/dok-liq)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Masih turunnya hujan deras hingga menjelang berakhir bulan ini (April) 2022, menyebabkan pelaksanaan pekerjaan pengerukan tanah dari dalam kolam tambat terganggu. Utamanya, adalah saat harus membuang galian tanah dari dalam kolam tersebut ke lokasi pembuangan yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari dermaga.

Sebab, kondisi akses jalan tanah di sisi barat dermaga saat dilewati ”dump truck” pengangkut berdampak ”bodhol-”nya akses jalan tersebut. Kondisi seperti itu baru saja dialami tiga hari berturut hingga hujan tidak turun lagi sampai Jumat (22/April) 2022 kemarin, sehingga pengangkutan tanah galian baru bisa dilaksankan kembali hari ini, menyusul setelah akses jalan bisa dilewati.

Kendati demikian, papar salah seorang pelaksana lapangan rekanan yang bersangkutan, Abdul Kholiq, pihaknya tetap harus berupaya untuk menata kembali setiap akses jalan yang ”bodhol” untuk diuruk dengan material. ”Akan tetapi tingkat kekeringan jalan tanah itu belum maksimal, maka dampaknya saat kendaraan pengangkut melintas, ada yang kembali seperti semula sehingga sudah pasti menjadi penghambat pengangkutan,”ujarnya.

Dua unit ekskavator ''lengan panjang'' (long arm) yang bertugas di luar kolam tengah mengisi tanah ke ''dump truck'' pengangkut.(Foto:SN/dok-liq)
Dua unit ekskavator ”lengan panjang” (long arm) yang bertugas di luar kolam tengah mengisi tanah ke ”dump truck” pengangkut.(Foto:SN/dok-liq)

Akan tetapi, lanjutnya, kondisi akan berubah di mana akses jalan tanah itu menjadi berdebu adalah saat berlangsungnya musim kemarau. Terlepas dari hal tersebut, pihaknya tiap hari masih bisa bekerja dengan mengoperasikan tiga unit ekskavator yang bertugas melakukan pengurukan tanah dalam kolam, dan berikutnya tanah hasil galian tersebut ditempuk.

Dengan demikian, setelah akses jalan memungkinkan untuk dilewati tumpukan tanah galian dalam itu diangkat keluar, untuk dinaikkan ke ”dump truck” kemudian diangkut ke lokasi pembuangannya yang sudah disiapkan. Berkait dengan kepentingan itu, maka ”dump truck” yang dikerahkan tidak bisa jika terlalu banyak, karena justru akan menyebabkan antrean terlalu lalu lama sehingga tidak efektif.

Karena itu, untuk penyediaan ”dump truck”pengangkut tanah galian maksimal empat unit untuk sementara masih cukup, jika nanti dirasa kurang karena lokasi tempat pembuangan juga sudah kering bisa ditambah. ”Empat unit itu dari hasil yang sudah dicapai, dalam satu unit per hari mampu mengangkut dan membuang tanah galian sebanyak 30 rit,”imbuh Abdul Kholiq.