Hadi Priyanto Ajak Hadapi Tantangan Masa Depan dengan Hidupkan Gagasan Para Pahlawan

0
36
Hadi Priyanto, Ketua Yayasan Kartini Indoensia saat tampil sebagai pembicara dalam seminar ''Jepara dalam Perspektif Sejarah; Tantangan dan Peran Pemuda'' yang diselengarakan SMAN 1 Nalumsari Jepara.(Foto:SN/dok-hp)
Hadi Priyanto, Ketua Yayasan Kartini Indoensia saat tampil sebagai pembicara dalam seminar ”Jepara dalam Perspektif Sejarah; Tantangan dan Peran Pemuda” yang diselengarakan SMAN 1 Nalumsari Jepara.(Foto:SN/dok-hp)

SAMIN-NEWS.com, JEPARA – Agar peringatan hari bersejarah bermakna untuk masa kini dan masa mendatang, maka gagasan, cita-cita dan perjuangan para pahlawan yang diperingati harus terus menerus dihadirkan dan dihidupkan. Kita jangan hanya terjebak pada acara-acara seremonial yang justru mengabaikan substansi, dan tujuan dari peringatan tersebut.

Hal itu diiungkapkan Ketua Yayasan Kartini Indoensia, Hadi Priyanto saat berbicara dalam seminar “‘Jepara dalam Perspektif Sejarah; Tantangan dan Peran Pemuda-” yang diselenggarakan SMAN 1 Nalumsari Jepara, Jumat (22/April) 2022 kemarin. Seminar dibuka Kepala SMAN yang bersangkutan, Ida Fitriningsih SPd MPd dan diikuti sekitar 300 guru dan murid sekolah itu, dan seminar diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Kartini ke-143, Hari Jadi jepara ke-473, dan Hari Bumi Tahun 2022.

Karena itu, menurut Hadi Priyanto, perlu dilakukan revitalisasi peringatan hari-hari besar bersejarah hingga memberikan ruang bagi masyarakat, untuk menghadirkan gagasa, cita-cita dan perjuangan para pahlawan. ”Dengan demikian, kita dapat belajar untuk menghadapi persoalan-persoalan masa depan, utamanya  dalam memperkuat karakter kita,”ujar Hadi yang dikenal juga sebagai penulis dan pegiat budaya Jepara.

Selanjutnya dijelaskan, Jepara memiliki tokoh-tokoh sejarah yang terbukti berperan besar dalam pembangunan bangsa ini. Di antaranya ada Ratu Kalinyamat, RMP Sosrokartono, RA Kartini, dr Cipto Mangunkusumo, dan dr Gunawan Mangunkusumo, tapi sayang gagasan-gagasan mereka belum sepenuhnya dihadirkan ke Bumi Kartini.

Bahkan, ungkapnya lagi, dr Gunawan Mangunkusumo itu, merupakan salah satu tokoh sentral dalam pergerakan nasional Budi Utomo, benar-benar tidak dikenal di Jepara, walau pun hanya untuk nama jalan. Padahal setiap tahun kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang ditetapkan berdasarkan momentum pendirian organisasi Budi Utomo. Sementara dr Gunawan Mangunkusumo, ternyata dikenal sebagai konseptor pergerakan dan motivator organisasi ini.

Sementara pengenalan terhadap RA Kartini, menurutnya juga masih sebatas kulit luar karena beliau hanya dikenal sebagai pahlawan emansipasi perempuan. Padahal beliau juga layak sebagai Penyulut Api Nasionalisme dengan menjadi Ayunda dan inisiator para pemuda prigresif di STOVIA. ”Pokok-pokok pikirannya juga menjadi pedoman resmi perjuangan para mahasiswa Hindia Belanda yang tergabung dalam Indische Vereniging atau Perhimpunan Pemuda Indonesia di Belanda,”ungkap Hadi.

Selain itu, RA Kartini juga memiliki jasa besar dalam pengembangan seni ukir Jepara dengan mengubah seni tersebut menjadi seni kerajinan yang dapat mensejahterakan para seniman ukir. Selebihnya juga dalam dunia pendidikan , RA Kartini memiliki andil besar. ”Menurut kami, ruh dan konsep pendidikan RA Kartini ada dalam konsep pendidikan yang diperjuangkan oleh Ki Hajar Dewantara, utamanya dalam pengembangan budi pekerti dan pembelajaran kreatif,”tandasnya.

Program merdeka belajar, masih papar Hadi Priyanto, guru penggerak dan bahkan Profil Pelajar Pancasila yang saat ini menjadi kebijakan Kemendikbudristek juga banyak mengadopsi gagasan-gagasan besar RA Kartini, baik yang sudah dilaksanakan disekolah yang didirikan di Jepara dan di Rembang maupun dalam surat-surat, serta nota kritik pada pemerintah Hindia Belanda.

Dari tokoh-tokoh sejarah tersebut kita dapat belajar banyak gagasan dan nilai perjuangan, mulai kecintaan pada bangsa dan negara, sikap patriotik, keberanian, kesediaan membela keadilan. Selain itu juga menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan, kejujuran, kritis, dan kreatif, maka soft skill ini sangat berarti bagi pemuda dalam menghadapi tantangan masa depan.

Selanjutnya, Hadi Priyanto juga menguraikan sejumlah tantangan yang dihadapi pemuda saat ini. Yaitu, disrupsi informasi, karakter dan jati diri yang rapuh, ilmu pengetahuan dan teknologi, intoleransi, kompetensi, kekinian, budaya hingga lingkungan hidup. ”Jika semua itu tidak terkelola dengan baik, maka peran pemuda sebagai agen perubahan, agen pembangunan dan agen pembaharuan akan menghadapi persoalan serius,”jelasnya.(hp)