Jembatan Juwana yang Akan Dibangun Kembali Itu Berusia 40 Tahun

0
175
Konstruksi Jembatan Juwana I di ruas Jalan Nasional
Konstruksi Jembatan Juwana I di ruas Jalan Nasional Semarang-Surabaya, atau tepatnya antara Desa Kauman-Bumirejo, Kecamatan Juwana yang dalam waktu dekat akan dibongkar untuk digantikan jembatan baru.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, SEPINTAS Jembatan Juwana I yang membentang di atas alur Kali Juwana atau di ruas Jalan nasional Semarang-Jakarta, tampak masih kokoh. Akan tetapi saat di atas jembatan sepanjang 100 meter itu di atasnya melintas bersamaan kendaraan bermutan berat maka memunculkan toleransi bergeraknya konstruksi di atas tembok pangkal sudah terlalu longgar.

Akibatnya, pada bagian atas kedua tembok pangkal di kedua ujungnya dan juga pada atas pilar tengah jembatan sering mengali kerusakan. Faktor penyebab, utamanya karena kendaraan yang melintas tiap hari selama ini dari barat (Semarang) ke Surabaya membawa muatan melebihi batas tonase yang diperbolehkan.

Untuk menghindari terjadinya hal-hal tak diinginkan, maka pihak berkompeten dari Pelaksana Jalan Nasional (PJN) Jawa Tengah pernah memasang pemberitahuan kepada semua kendaraan yang hendak melintas dari barat. Yakni, dilarang untuk berhenti di atas jembatan, dan hal tersebut memang dipatuhi para sopir yang melintas dengan kendaraan besar.

Di sisi lain, ungkap salah seorang warga Juwana, Sunarto, jembatan tersebut seiingatnya dibangun oleh Departemen Pekerjaan Umum (waktu itu) Tahun 1981. ”Pertimbangannnya, karena satu-satunya jembatan peninggalan yang terletak di antara Desa Doropayung dan Bumirejo, Kecamatan Juwana kondisinya sudah tidak layak,”ujarnya.

Selain sudah sering rusak dan sempit, tiap hari selalu dilewati truk yang juga membawa muatan berat baik dari timur (Surabaya) maupun barat (Semarang). Karena itu, ketika jembatan tersebut dibangun dan selesai diresmikan Tahun 1982 disebut sebagai Jembatan Juwana I, dan jembatan yang di Doropayung tidak lagi difungsikan untuk melintas kendaraan bermuatan berat.

Adapun yang meresmikan jembatan tersebut waktu itu, adalah Menteri Pekerjaan Umum Ir Poernomosidi. Waktu itu, kami masih duduk di bangku kelas II SMP dan diharuskan untuk ikut berdiri berjajar di pinggir jalan, dan waktu itu grup drumband yang bermain memeriahkan acara itu dari SMK Juwana,”ujarnya.

Dengan demikian, lanjutnya, jika dihitung sampai sekarang, umur jembatan itu sudah mencapai 40 tahun, sehingga wajar jika secara teknis sudah mengalami perubahan. Sebab, berapa banyak kendaraan yang melintas di atasnya tentu sulit untuk menghitung, dan jika sekarang hendak diganti tentu sudah semestinya.

Akan tetapi, saat penggantian atau pembangunan jembatan akan dimulai, satu hal hendaknya jangan diabaikan, yaitu perhatian pihak yang berkompeten terhadap warga yang notabene adalah tunawisma. ”Karena itu, selama ini adakah memilih menjadi penghuni kolong jembatan yang tentu dengan segala konsekuensinya,”imbuh Sunarto.