BPS Sebut Pandemi Berimbas Angka Kemiskinan Tinggi

0
36
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Pati, Anang Sarwoto

SAMIN-NEWS.com, PATI – Pandemi Covid-19 dua tahun ke belakang ini berdampak pada pendapatan serta perekonomian masyarakat. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Pati angka pandemi menyebabkan kenaikan angka pengangguran.

Data BPS menyebutkan angka pengangguran di Pati sebesar 10,21 persen. Penyebabnya adalah bukan karena penanganan yang tidak tepat. Melainkan faktor pandemi Covid-19 yang berdampak terhadap pola konsumsi dan lesunya aktivitas ekonomi.

“Di tahun 2021, kita masih naik kemiskinannya menjadi 10,21 persen. Itu masih dampak pandemi. Jadi bukan karena dampak penanganan yang kurang bagus, tapi memang pandemi ini memukul segala sektor. Baik perekonomian atau pola kosumsi masyarakat,” kata Kepala BPS, Anang Sarwoto, Selasa (8/3/2022).

Tingginya angka kemiskinan itu, menurutnya tidak hanya terjadi di Kabupaten Pati. Akan tetapi, dirasa perekonomian nasional juga demikian, tentu di daerah lain sama. Angka tersebut dianggap kenaikannya tidak signifikan.

Indikator penilaian angka kemiskinan itu adalah persoalan pola konsumsi masyarakat yang berubah. Dimana pendapatan menurun serta pekerjaan banyak yang dirumahkan. Maka, perubahan ini berpengaruh pada nilai jumlah kalori yang menjadi batas kemiskinan.

“Kita ada 2100 ribu kilo kalori per orang selama sebulan. Juga ada garis kemiskinan, yakni pendapatannya. Selama tahun 2021 garis kemiskinan kita ada 458.616 ribu,” jelasnya.

Anang menambahkan selama pandemi ini sektor jasa yang paling terdampak, seperti perhotelan, rumah makan, perdagangan dan juga transportasi. Sedangkan di Kabupaten Pati tidak terlalu terdampak karena lebih banyak di sektor pertanian.

“Di tahun 2020, Penanganan Daerah Rawan Pangan (PDRP) kita masih naik. Sedangkan di tahun 2022 turun, akan tetapi tidak terlalu signifikan. Tapi kalau pertanian kita terpukul karena pandemi, pertumbuhan ekonomi kita akan kecil dan juga angka kemiskinan akan naik banyak,” ujarnya.