Lima Tahun Lagi; Kwaran Juwana Akan Menuai Dana Abadi

0
119
Salah seorang personel anggota Pramuka di Kwaran Juwana, Aris dengan semboyannya ''Biar Tekor Asal Kesohor.'' (Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, KENDATI bukan kaya dengan material yang berlebihan, tapi kalau untuk kepentingan organisasi yang dicintai, salah satunya adalah Gerakan Pramuka, salah seorang di antara mereka, Aris ini dikenal dengan semboyannya. Yakni, berani ”Tekor Asal Kesohor,” apalagi jika tidak tekor/menutup timbulnya biaya lebih dahulu setiap berlangsung kegiatan.

Kondisi tersebut selalu dialami Pramuka Kwartir Ranting (Kwaran) Juwana karena untuk biaya yang timbul baru bisa ditutup belakangan, setelah iuran dari para partisipan sudah terkumpul. Hal tersebut menjadi solusi terbaik selama ini, dan dia memang selain menjadi ujung tombak juga sebagai ”ujung tombok,” mengingat dia sendiri adalah sebagai keponakan tokoh Pramuka yang cukup dikenal di Juwana, yautu Nasir Hendro Winarno.

Karena itu, berdirinya Sanggar Bakti Kwaran Juwana, salah satu penggagas dan juga perintisnya adalah almarhum Kak Nasir Hendro Winarno (HW). ”Akan tetapi sanggar bakti yang berlokasi di pinggir Jl Sunan Ngerang Juwana ini, pernah mengalami puncak kondisi yang benar-benar sangat memprihatinkan, karena di Tahun 2014 pernah tergenang banjir, karena lokasinya yang sangat rendah.

Tidak hanya cukup dengan itu, karena lokasi tersebut juga berdekatan dengan lapangan bola voli yang kala itu tidak berjaring, maka atap gentingnya pun banyak yang rusak, karena pecah oleh hantaman bola atau bola yang menyangkut kemudian pengambilnya naik ke atap dengan berjalan kaki seperti jalan biasa. ”Tahun 2016, saat Kak Mustar sebagai Ka Kwaran sebelum mengakhiri masa bakti kepengurusannnya, kami pun menggagas hal apa yang harus dilaksanakan, untuk kepentingan Kwaran Juwana,”ujarnya.

Setelah terpilih Ka Kwaran Baru, Kak Sutar, lanjutnya, maka mulai Tahun 2017, perbaikan sanggar bakti yang dalam kondisi memprihatinkan pun dilakukan. Yakni, dengan mengubah kondisi ketinggian lokasi agar bila terjadi banjir tidak lagi menjadi sasaran genangan air, termasuk menata semua bagian yang saat itu mengali kerusakan, sehingga boleh dianggap melakukan rehabilitasi berat.

Mengingat Kwaran tidak mempunyai dana, maka pihaknya harus tombok terlebih dahulu sebesar  Rp 25 juta, dan melengkapi sanggar tersebut dengan  fasilitas satu kios di sebelah kiri, jika dari personel Dewan Kerja Ranting (DKR) ingin membuka kegiatan usaha. Akan tetapi ketika hal tersebut ditawarkan kepada yang berminat, akhirnya membatalkan diri setelah mengetahui bahwa untuk memanfaatkan fasilitas tersebut juga disertai membayar uang sewa.

Selebihnya, pembangunan fasilitas kios lainnya dengan menempati bagian depan sanggar sebanyak 4 unit juga dilakukan, tapi setelah lima tahun berjalan yang diminati penyewa dan satu unit masih kosong. Berkait hal itu, pihak Kwaran mendapat bagi untung 20 persen tapi semuanya dimanfaatkan untuk perbaikan bagian sanggar lainnya yang rusak, di mana bagi keuntungan sewa sebesar itu rata-rata adalah Rp 2 juta/tahun.

Akan tetapi, dalam kurun waktu lima tahun ke depan atau setelah Tahun 2027 Kwaran Juwana akan menjadi satu-satunya kwaran yang bisa menghimpun dana abadi dari hasil pmbangunan lima unit kios tersebut, karena hal itu sesuai perjanjian selama kurun waktu 10 tahun pihaknya yang mengelola. ”Jika jangka waktu lima tahun kedua ini berakhir, maka tiap tahun paling tidak Kwaran Juwana akan mempunyai dana abadi tiap tahun rata-rata 30 juta,”imbuhnya.