Pekerja Penyemprot Hama di Kawasan Persawahan Kompleks LI Kesulitan Mendapatkan Air

0
610
Beberapa pekerja penyemprot hama padi maupun penyemprot rumput di areal persawahan kawasan Komplek Lorong Indah (LI) Dukuh Bibis, Desa/Kecamatan Margorejo yang harus hilir  mudik mencari air.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Sampai Jumat (4/Februari) kemarin hingga Sabtu (5/Februari) 2022 hari ini yang terkena dampak dengan pembongkaran bangunan di kompleks Lorong Indah (LI) Dukuh Bibis, Desa/Kecamatan Margorejo, adalah para pekerja atau penjual jasa. Yakni, untuk melaksanakan penyemprotan hama maupun penyubur tanaman padi, serta penyemprotan rumput, termasuk yang ada di lahan tebu.

Akan tetapi, papar beberapa pekerja yang bersangkutan saat bertemu di lokasi bongkaran bangunan di kompleks LI, ternyata untuk mendapatkan air pengisi tanki penyemprot tidak ada. Padahal, air tersebut untuk mencampur pestisida ke dalam tanki, kemudian baru bisa disemprotkan ke tanaman padi maupun rumput sasaran.

Faktor penyebabnya, saat berlangsung pembongkaran bangunan di kompleks tersebut, jaringan listrik PLN dayanya memang dimatikan. ”Dengan demikian, kondisi itu belum dinyalakan kembali seperti biasanya, sehingga tidak ada air mengalir dari sumur yang dibuat para petani di areal persawahan mereka,”ujar salah seorang di antara mereka. Sugiman, warga Penambuhan juga di Kecamatan Margorejo.

Padahal, lanjutnya, banyak petani yang memasang meter listrik sendiri di gardu pinggir jalan tak jauh dari kompleks LI. Karena sumur yang dibuat petani menggunakan cibel, maka jika tidak menggunakan daya listrik tentu tak bisa mengangkat air ke permukaan, maka mereka pun harus mencari sisa-sisa air hujan yang barang kali tersisa di saluran.

Mengingat sebagai pekerja, maka para tenaga penyemprot tersebut mendapat order dari petani pemilik lahan, dengan upah jika bekerja dari jam 07.00 pagi s/d 10.00 mendapat upah Rp 50.000. ”Sebaliknya jika sampai lepas pukul 14.00, upahnya Rp 100.000 ditambah satu bungkus rokok,”imbuhnya.

Terlepas dari hal tersebut, di lokasi yang sama pagi-pagi juga terjadi selisih paham antara tiga pesepeda yang juga ”gowes” sampai di lokasi bongkaran itu. Dengan fasilitas HP android-nya salah seorang di antara mereka mengambil gambar puing-puing reruntuhan bangunan yang dibongkar dari selatan ke utara atau dari lorong dua ke lorong tiga.

Dalam gaya ”sok” sebagai reporter, maka yang disampaikan di antaranya terdapat kalimat bahwa ”Susu Lendir di LI sekarang sudah dihancurkan,” dan seterusnya. Tapi kalimat tentang susu lendir tersebut sempat di dengar oleh salah seorang di tempat itu sehingga langsung menyampaikan teguran keras, dan beruntung pesepeda yang bersangkutan langsung bergegas meninggalkan tempat tersebut.

Lain halnya dengan yang ditegaskan oleh seorang laki-laki berumur hampir sekitar 60 tahun berkendara motor butut jenis Honda Bebek, saat mendekati lokasi pembongkaran. Dengan masih berada di atas motornya setelah melihat kondisi itu langsung keluar pernyataan keras dari mulutnya, yaitu ”Benar-benar anarkis,”kemudian langsung berbalik kembali ke arah semula, dari mana dia datang.