Diskominfo Pati Sambangi Kediaman Nur Khamim: Berbagi Kisah Semasa Kecil

0
199
Rombongan Diskominfo Pati ke kediaman Nur Khamim dan kakaknya, Bunari.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Sekdes Gajihan, Nur Khamim beserta kakaknya, Bunari belakangan ini menjadi bahan perbincangan publik. Khususnya karena videonya viral atas pemberian kado ulang tahun untuk anak-anaknya berupa tiga mobil mewah, masing-masing Alphard, Rubicon HRV.

Melihat kejadian itu, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Pati menyambangi kediaman Bunari di Desa Sumberejo, Gunungwungkal, Selasa (11/1/2022). Dalam kunjungan itu, Diskominfo menanyakan ihwal kabar tersebut serta berbagi cerita semasa kecil.

Bunari membenarkan bahwa telah memberikan kado mobil untuk anaknya. Namun bukan bermaksud untuk pamer, melainkan rasa kasih sayang yang diberikan yang semasa kecilnya tidak pernah terbayang bisa memiliki.

“Semasa SMA sering kesulitan mengikuti tes karena nunggak SPP. Dan setelah lulus, merantau ke (kota besar) Jakarta jadi kuli bangunan. juga pernah nguli di Solo serta kuli chat tv Polytron,” ucap Bunari.

Sedari kecil memang dididik keadaan mengharuskan bekerja keras untuk tak kenal kata menyerah. Bahkan masih meneruskan ke perguruan tinggi. Semasa kuliah, ia nyambi ngamen, jualan tas, martabak, sandal di Malioboro, dan menekuni jualan madu.

Pegawai Diskominfo foto bersama dengan menunjukkan usaha jualan madu milik Nur Khamim

Sementara adiknya, Nur Khamim juga mengalami nasib yang pahit saat itu. Sekolahnya ditempuh dengan jalan kaki sepanjang 6 KM dengan pakaian kusut serta sepatu yang penuh jahitan. Tak hanya itu, Nur Khamim hanya bisa melihat anak sebayanya sedang jajan es limun.

“Gak usah tuku es yo le, iki ngombe banyu kendi (tidak usah beli es ya nak, ini minum air kendi),” ucap Nur Khamim menirukan orang tuanya kala itu.

Untuk bisa membeli es limun itu, dia bersama sang kakak sepulang sekolah mencari kapuk untuk dijual lalu uangnya dibelikan es.

Tetapi, nasib sekolahnya tak semulus kakaknya, Bunari tak bisa meneruskan usai SMP. Karena masalahnya sama yaitu tersendat pembayaran SPP. Kendati demikian, ia bertekad agar kelak nasib yang dialami agar tidak dirasakan anaknya.

Ia memutuskan ikut kakaknya merantau ke Jakarta bekerja untuk mencari hidup layak. Tak hanya itu, ia mengadu nasib ke luar negeri, Arab Saudi. Gaji yang diterima, ia gunakan membeli sebidang tanah lalu dijual kembali dengan untung empat kali lipat. Sejak saat itu, kehidupannya mulai berubah dan bercita-cita menjadi pembayar pajak terbesar.

“Impian besar Nur waktu kecil, tidak hanya taat pajak tetapi menjadi pembayar pajak terbesar di Pati,” cerita Nur Khamim kepada Kepala Bidang IKP Diskominfo, Endah Murwaningrum beserta rombongan.

Menurut Endah, ada motivasi dan pesan-pesan setiap peristiwa di balik susahnya kehidupan. Dan cerita hidup Nur Khamim beserta kakaknya, Bunari bisa dijadikan contoh positif terhadap tekad dan kerja keras mereka.

“Banyak hal yang bisa kita jadikan contoh positif bahwa pasti ada jalan untuk kita yang mau berusaha dan berjuang untuk hidup yang lebih baik,” tutur Endah.

Untuk diketahui, keduanya merupakan penggagas Warung Langit. Dengan agenda pembagian makan gratis tiap hari Jumat di Pasar Tayu, juga menjadi donatur untuk panti asuhan, masjid dan musholla di beberapa kecamatan.(adv)