Sejak Pandemi Banyak Terjadi Kekerasan, Menteri Bintang Minta RUU PKS Segera Disahkan

0
35
Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan dan anak, foto:Mediaindonesia

SAMIN-NEWS.com, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga mengatakan sejak pandemi kekerasan yang menimpa perempuan dan anak cukup banyak. Ini perlu menjadi perhatian serius seluruh pihak.

Fenomena pandemi, menurutnya menyebabkan perempuan dihadapkan dengan kondisi yang cukup pelik. Selain memang berdampak pada kesehatan dan perekonomian, pandemi berpengaruh terhadap isu sosial baru yakni efek samping penggunaan internet terhadap kekerasan seksual.

Hal itu disampaikan Bintang dalam Diskusi Publik: Potret Situasi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual Tahun 2021 yang dilaksanakan LBH APIK Jakarta secara vitual, Jumat (10/12).

“Selain dampak ekonomi dan kesehatan mental yang ditimbulkan, penggunaan internet yang semakin masif di masa pandemi telah meningkatkan risiko perempuan mengalami kekerasan berbasis gender online (KBGO),” katanya.

Ia mengakui terdapat isu-isu baru sejak pandemi terhadap kekerasan. Di mana sebelumnya kekerasan cenderung terjadi kebanyakan yaitu Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Isu ini pun juga tidak menunjukkan penurunan tren.

“Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang biasa mendominasi tren kasus kekerasan di tahun-tahun sebelumnya, juga tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan,” ungkapnya.

Data Komnas Perempuan mencatat, pada tahun 2020 angka kekerasan berbasis gender siber mengalami kenaikan pesat, hampir 400 persen. Data SAFENet juga menunjukkan tren serupa, yakni pada 2020 laporan penyebaran konten intim secara non-konsensual mengalami peningkatan sebesar 375 persen.

Selanjutnya, data SIMFONI PPA pada rentang Januari s/d 2 Desember 2021, menunjukkan kasus KDRT mendominasi bentuk kekerasan yang paling banyak dilaporkan, yakni 74 persen dari total 8.803 kasus.

Berdasarkan data tersebut, Bintang menyimpulkan bahwa di masa pandemi, anak juga tidak terbebas dari ancaman kekerasan. Kemen PPPA melakukan sejumlah upaya untuk mencegah terjadinya kekerasan perempuan dan anak.

“Penguatan ini dilakukan dengan mendorong pembentukan unit layanan di daerah, memperkuat basis data, mendorong peningkatan kapasitas SDM, menyediakan layanan call center Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) 129,” tegasnya.

Melihat isu kekerasan yang semakin kompleks, Bintang mengajak semua pihak untuk sadar dan berjuang menghapus segala kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kemudian juga mendukung agar Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) segera disahkan.