Perlu Dipikirkan Adanya Pemantau Ruas Jalan di Kabupaten Pati

0
98
Akses ruas jalan Tayu-Juwana yang bila turun hujan deras selalu menyisakan genangan air cukup tinggi juga, karena tidak tersedianya saluran pembuang yang maksimal.(Foto:SN/dok-aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Dihapusnya sistem kemandoran untuk setiap ruas jalan di masing-masing wilayah eks-kawedanan, menjadikan terbatasnya pelaksanaan  pemantauan kondisi ruas jalan di Kabupaten Pati. Padahal, kini kian bertambah jumlah atau panjang ruas jalan dengan masuknya ruas jalan poros desa menjadi jalan kabupaten.

Dengan demikian, dampak yang ditimbulkan dari keputusan penghapusan tersebut menyebabkan, akses ruas jalan kurang terawat, sehingga banyak memunculkan permasalahan bahu jalan yang dimanfaatkan warga untuk ditanami tanaman semusim. Tidak hanya itu, ada juga bahu jalan yang ditumbuhi onak dan duri, seperti yang mudah ditemui di pinggir ruas jalan Cengkalsewu, Kecamatan Sukolilo, Pati – Bulung, Kecamatan Jekulo, Kudus.

Karena itu, papar salah seorang personel dari Bidang Binamarga DPUTR Kabupaten Pati, Cipto, mengusulkan dan menyarankan dikembalikannya fungsi sistem kemandoran seperti tempo dulu. ”Atau jika nama tersebut harus diganti, karena terkesan feodal, maka gantinya paling tepat sebagai pemantau dengan batas wilayah tetap sama seperti dulu, yaitu eks-kawedanan,”ujarnya.

Apalagi, lanjutnya, selama ini juga sudah ada unit pelaksana teknis (UPT) di tiap-tiap wilayah eks-kawedanan, sehingga tinggal menambah bidang tugas untuk pemantauan kondisi jalan. Sebab, jika mengingat biaya peningkatan ruas jalan sekali mengalami kerusakan, tentu tidak murah, karena bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Akan tetapi jika penggunaannya tidak sesuai peruntukan, maka pihak-pihak yang menjadi penyebabnya harus dimintai pertanggung jawaban. Seperti contoh, dengan diperbaikannya kerusakan ruas jalan nasional Juwana-Batangan, maka banyak kendaraan, termasuk truk-truk dan bis penumpang umum yang mencari jalan alternatif lewat Juwana – Jakenan – Jaken – Batangan yang hanya standar toinase jalan kelas III.

Belum lagi kondisi ruas jalan lain, seperti Tayu-Dukuhseti selama ini berapa kali diperbaiki pasti akan cepat rusak karena truk-truk pengangkut material selalu melebihi tonase, dan sekembalinya juga sering ngebut. ”Hal itu juga terjadi pada ruas jalan Tayu-Juwana yang bila hujan selalu menimbulkan sisa genangan air, karena tidak ada personel yang bertugas memantau dan menanganinya dengan berupaya mengeluarkan air dari badan jalan saat itu juga,”imbuhnya.