Petani di Kawasan Bibis Lega ; Jalan Berbatu Sudah Banyak Ditutup Lapisan Padas

0
135
Beberapa petani pemilik lahan di kawasan Bibis yang lebih dikenal dengan kompleks Lorong Indah (LI) di Desa/Kecamatan Margorejo, kini menikmati jalan menuju ke areal persawahannya yang saat melintas tidak terguncang keras baik sepeda onthel maupun motornya (atas) dan para pekerja tengah menggelar lapisan penutup padas giling (bawah).(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Jawaban atas pertanyaan banyak pihak berkait dengan keberadaan kompleks Lorong Indah (LI) di Dukuh Bibis, Desa/Kecamatan Margorejo yang beberapa bulan lalu sudah ditutup oleh pemerintah, bukanlah hanya sakadar teori dan kata-kata. Bagi salah seorang pemilik bangunan yang bersebelahan dengan kompleks tersebut, Zaenal Musyafak, berbuat sesuatu hal kecil itu lebih penting, karena yang penting adalah kenyataannya.

Dengan demikian, hal tersebut manfaatnya sudah langsung dirasakan oleh para petani yang memiliki lahan persawahan di  kawasan itu. Sebab, selama bertahun-tahun atau sejak LI buka hingga sekarang, jalan yang mereka lewati tiap hari kalau ke sawah maupun sekembalinya hanyalah jalan berbatu sepanjang lebih dari dua kilometer.

Akibatnya, papar beberapa petani setempat ketika ditemui tengah beristirahat di pinggir jalan itu, atau juga di pinggir areal persawahannya saat mencabut bibit padi yang hendak ditanam, tiap hari jika ke sawah tubuhnya harus terguncang-guncang di sepanjang jalan. ”Hal itu tidak hanya dialami oleh mereka yang berkendara sepeda onthel, melainkan juga yang berkendara sepeda motor,”ujar salah sorang di antara mereka, Sumarto (56).

Persedian material padas giling yang didrop dengan ”dump truck” pengangkut, kini sudah sampai di kompleks LI (atas) dan pekerja pemotong rumput juga diterjunkan di pinggir jalan mulai dari ujung jalan itu hingga ke kompleks LI juga (bawah).(Foto:SN/aed)

Sebab, lanjutnya, jalan tersebut mulai ujung lorong hingga sampai ke kompleks jika rusak hanya ditutup dengan batu grosok, sehingga batu-batu tersebut tidak maksimal masuknya ke dalam tanah. Hal itu terjadi, saat ada kendaraan truk pengangkut hasil tebangan tebu masuk lewat jalan tersebut, maka bongkahan bantunya jika harus dilewati roda sepeda onthel maupun motor menjadi berguncang.

Dengan demikian, tubuh orang yang menaiki sepeda onthel maupun motor saat lewat pasti ikut terguncang-guncang pula di sepanjang jalan berbatu itu. Hal tersebut sudah biasa mereka alami bertahun-tahun, sampai akhirnya ada kabar kalau pemerintah sudah menutup kompleks LI, termasuk bangunan rumah yang digunakan pemiliknya untuk tempat karaoke.

Akan tetapi, ditutupnya tempat tersebut justru jalan menuju ke sana dari ujung lorong yang berbatu-batu itu ditutup dengan lapisan padas giling, sehingga bagian permukaannya meskipun tidak semua tetap banyak yang rata. ”Tapi yang melakukan itu, kami baru tahu kalau Pak Musyafak karena perangkat kami saja tadi sempat datang ke sini menanyakan hal tersebut, karena memang tidak tahu,”imbuhnya.