17.065 Anak di Jepara Putus Sekolah

0
35
Bupati Jepara Dian Kristiandi menyerahkan beasiswa kepada 14 anak tidak bersekolah dari pemerintah dan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan.(Foto:SN/dok-hp)

SAMIN-NEWS.com, JEPARA – Sebanyak 17.065 anak di Jepara tercatat putus sekolah, sehingga hal ini menjadi permasalahan serius di Kota Ukir ini. Hal tersebut terungkap berdasarkan analisis masalah anak putus sekolah atau anak tidak sekolah (ATS) pada Survei Sosial Ekonomi Nasiponal (Susenas) Tahun 2019, sehingga diperlukan penanganan khusus untuk mengentaskan masalah pendidikan tersebut.

Hal itu diungkapkan Andi, sapaan Bupati Jepara, Dian Kristiandi saat melaunching dan membuka acara Penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Jepara. Acara tersebut berlangsung di Pendapa Kartini, Selasa (7/Desember) 2021 kemarin.

Acara yang bertajuk Gerakan ”Yuk Sekolah Maneh” itu, di dalamnya didukung Gerakan Remaja Hebat. Tujuannya, sebagai upaya percepatan penanganan anak tidak sekolah, agar dapat bersekolah sesuai jenjang pendidikannya.

Hadir dalam kesempatan itu selain Kepala Bappeda Subiyanto juga para camat, perwakilan Unicef Jawa-Bali, Yuanita Marini Nagel, dan Kepala Perangkat Daerah terkait. Selain itu hadir pula unsur akademisi, GNOTA, serta pihak swasta.

Karena itu, tegas Bupati Jepara Dian Kristiandi, persoalan ATS di Jepara harus dientaskan, dan hal itu akan menjadi tugas pemerintah dalam menangani masalah tersebut. Sebab, akan menghambat pemerintah dalam mencapai target wajib belajar 9 tahun menuju pendidikan wajib belajar 12 tahun.

Menurutnya, banyak faktor yang menyebabkan ATS, seperti anak itu memang tidak mau sekolah, faktor ekonomi, pernikahan usia dini, sosial budaya, dan masih banyak lagi faktor lainnya. Karena itu, semua stakeholder harus bersama-sama mengentaskan anak putus sekolah di Jepara.

Banyak program dan kegiatan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara, dalam upaya mengatasi permasalahan ATS. ”Antara lain, pemberian beasiswa dan program kejar paket,”ujarnya.

Melalui kolaborasi lintas sektoral, lanjutnya, diharapkan permasalahan ATS di Jepara dapat ditangani secara komprehensif, berkelanjutan, dan dilandasi semangat kebersamaan. Selain itu juga keswadayaan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Andi menyerahkan beasiswa kepada 14 anak tidak sekolah dari pemerintah dan Corporate Social Responsibility (CSR). Pada kesempatan sama, Yuanita M Nagel, Education Officer Unicef menyebut bahwa di Jepara saat ini ada empat desa yang didampingi, yaitu Desa Tubanan, Nalumsari, Tegalsambi, dan desa Tulakan.

Namun tidak menutup kemungkinan, desa yang didampingi akan bertambah jumlahnya, maka program pendampingan ini akan dijalankan sampai Juni 2022. ”Kami membantu pilot project, tapi harapannya nanti pemerintah Jepara bisa melanjutkan,”imbuh Yaunita M Nagel.(hp)